Minggu, 26 Juli 2015

Silaturahmi ... Mengisi Energi

Minggu, 26 Juli 2015, bangun pagi karena dering telepon. Tiyok dan Hendro sudah menunggu di teras. Mau ke sawah pakaiannya rapi benar pukirku sambil berjalan ke kamar mandi.
15 menit. Mandi tanpa gosok gigi, ganti baju, berangkat. Terpikir sarapan, ah sudah terus saja, tidak kerja keras ini. Selepas kolam renang arta tirta ragu-ragu, berhenti. Cari petunjuk, rogoh hp mau telpon Setyo. Ternyata sudah ada petunjuk lewat sms.
Basa-basi sambil ngopi sebentar trus ke lahan. Sawah teras siring. Pematang sawahnya rapi dan kecil-kecil membuat Hendro sulit menapakinya, pilih lewat sawah.
Nanti pulangnya lewat jalan bawah saja, he he usul tanda ketidaknyamanan. Untuk lahan ketiga dan kedua yang dikunjungi letaknya di pinggir jalan desa.
Satu jam kunjungan lahan selesai, kembali ke rumah setyo menyusuri tanggul saluran irigasi. Ngobrol soal isu kekeringan sampai sampah di saluran irigasi : pempers dan softex.
Mampir ke kandang sapi kelompok, ganti pembicaraan. Harga sapi untuk besaran, karena seisi kandang sapi jantan.
Jam 11 kembali ke rumah, melihat kolam ikan sambil cuci kaki. Masuk ke rumah meneruskan basa-basi administrasi, sementara Tiyok mengisi formulir registrasi dan inspeksi, saya meneruskan makan ubi rebus.
Ritual selanjutnya makan siang. Rebusan bayam, taoge, kecipir dan kacang panjang ditemani bumbu kacang. Lele goreng dan krupuk.
Ayo makan dulu
Sebentar tunggu Harris
Harris datang, mulai makan, sejam kemudian melanjutkan perjalanan ke Bener.

15 menit sampai di kandang sapi yang pernah diceritakan Haris ke pada tiyok. Mohon ijin melihat sapi dan seorang ibu membukakan gerbang kandang sapi. Begitu melihat ujud 4 sapi yang tersisa di kandang tangan gatal ingin memotret. Tak jadi karena seorang bapak bertubuh kecil masuk ke kandang. Dia seorang diri yang mengurus sapi-sapi ini.
Sebulan lalu 14 ekor mas ... Begitu katanya diteruskan dialog soal bagaimana memelihara sapi sampai bobot mencapai 7 kwintal lebih.
1 jam tidak terasa,
Mampir ke rumah dulu ...
Jam 2 lebih 18 menit pamitan kepada bapaknya Haris.
Perjalanan pulang, ngantuk mulai membayang-bayangi mata. Mereka-reka otak agar tetap terjaga di atas roda dua. Setelah ketemu teman baru berorganik, Setyo dan Pak Semono di kecamatan Loano ada langkah-langkah yang perlu dilakukan lagi. Setelah berinspirasi dengan sapi perlu menetapkan tekad dan niat untuk mempraktekkan.
Berhenti di pom bensin loano. Bersilaturahmi seperti mengisi bensin, menambah energi agar hidup tetap berjalan dan berakselerasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar