Jumat, 28 Agustus 2015

Pak maniso

Bubar dari cangkrep jam 1. Bubar karena seorang teman sudah ditelepon istrinya (untuk kedua kalinya), minta dibawakan obat batuk dan kawatir anak keduanya yang baru disapih dari asi eklusif terbangun dan bikin huru-hara menggagalkan penyapihan.
Saya bersyukur saja karena masih dalam program meredakan infeksi dari pangkal jempol kaki. Saya terbantu oleh suami setia ini. (Mohon dicatat bersetia pada pasangan itu bukan hanya kebaikan bagi keduanya namun juga membuat teman menjadi baik ... Ha ha ... Ribet punya teman yang suka ngibuli istrinya).
Sampai rumah, parkir motor, buka pintu, masuk rumah, ganti baju, ambil sikat gigi colekan pasta gigi 1 cm, buka pintu belakang, masuk kamar mandi tanpa mengunci pintu. Gosok gigi, cuci muka, berhanduk, masuk rumah, ambil gelas tuang segelas air putih dan teguk habis.
Masuk kamar, rebahkan badan, tarik sarung sampai atas telapak kaki, tidur ...

Dan jam 06.15 tak berhasil tidur. Beranjak dari kasur trus jalan-jalan di belakang rumah. Bingung. Panaskan air lalu buat secangkir kopi. Menyruput kopi sambil mengisap rokok (maaf gambar saya blur kan dari bayangan anda).
Enak sekali, mungkin orang bisa membayangkan begitu, bagiku enaknya di mana sedang kucari-cari. Tidak bisa tidur, minum kopi pahit kental dan mengisap rokok kretek lebih mirip rangkaian kegiatan orang goblok. Jelas !!!
8
Om tenggok pekerjaan mas agus nggak?
Ya, sebentar aku habiskan kopi (maksudnya meneruskan kegiatan orang goblok tadi). Tak apa dia tidak tahu apa yang terjadi, jawabanku sudah membuatnya girang. Punya tiket bebas keluar kantor. Walau dia juga tidak tahu juga karena saya punya janji datang di satu desa yang dilewati perbaikan jalan yang dikerjakan temanku. Jadi impas.

Sampai di desa mas agus langsung mengajak ke rumah pak lurah.
Begitu melihat pak lurah langsung ingatanku muntah dari dalam otak. Pernah bertemu sekali dan mengesan karena pertemuan 30 menit pertama yang beliau sampaikan tak jauh dari bagaimana mendapatkan bantuan.
Saya lurah baru mas, bagaimana saya harus 'ngopeni' pendukung saya kalau tidak mencari kegiatan di kabupaten. Ya kalau saya keluarkan harta saya ya bisa bangkrut mas, begitu alasan. Ok rasional (dalam budaya pemilihan yang menjadikan demokrasi sebagai panggungnya orang-orang dungu dan politik adalah sumber penghasilan orang-orang serakah).
Pak Lurah, sambil jabat tangan, rumah pak marino di mana?
Maniso, Mas ... Petani organik to?
Ya pak ..
Ya Maniso, Marino ki preman, malah repot nanti. Sudah bapak tunggu di sini saja, ngopi-ngopi dulu nanti tak jemput dia di rumahnya.
Yach jadi nggak enak pak ...
Sudah tidak apa-apa, saya senang jenengan sampai sini kok ...
Modus, bathinku ....
Ngopi lagi .... Kopi dari jambi, terbayang hitam pekatnya. Ok lah ngopi tetap menarik, tambah tidak tidur 24 jam jelas bukan campuran menarik. Jelas !!!

Jam 10.05
Lha ini pak maniso mas, sudah datang kata pak lurah
Lho pak bejo to
Nggih pak
Pak Lurah, boleh saya ajak mas bejo ke rumah saya
Ya boleh, jawab pak lurah singkat ...
Ajak saya ke lahan jenengan dulu sahutku

Di lahan pak maniso menceritakan bahwa dia sudah mulai mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetik sejak tahun 2008.
Sudah 4 musim tanam ini saya hanya menggunakan kompos dan semprotan alami mas ...
Saat tanam kedelai bagaimana, tanyaku
Ya pakai kompos dan urine kelinci mas ...
Luas lahan ini berapa pak
140 ubin mas
Batas sebelah timurnya mana?
Pak maniso berjalan ke arah timur dan kuikuti ...
Ini mas
Ia tunjuk pematang kecil sambil memandang wajahku dan aku coba tak mengeryitkan jidatku.
Kurang tinggi ya mas
Ya
Musim depan saya buat kolam penyaringan air di sisi sini mas, katanya seolah sudah tahu arah pembicaraanku ... Dan tak ada yang kutanyakan lagi, karena pak maniso sudah paham pertanian organik dan sudah mengatur rencana untuk menjamin tata kelola pertanian organik di lahannya.

Sudah jam 11 lebih, jenengan jumatan to ...
Masih nanti, mampir ke rumah dulu mas sebentar ..
Sampai di rumah pak maniso bercerita mengapa dia tetap meneruskan budidaya organik walau teman-teman di desanya belum mengikuti. Ia mau mencukupi kebutuhan pangan sehat untuk anak-anaknya, dan anak-anaknyapun terlanjur maunya nasi organik. Sanak familinyapun sekarang mau diberi oleh-oleh beras saat mereka tahu pak maniso mengusahakannya dengan cara organik.

Hampir jam 12 saya ingatkan lagi pak maniso soal jumatan.
Ya mari saya antar ke rumah pak lurah sambil mengambil motor ...

Makan dulu pak, yang lain sudah, kata pak lurah
Pak maniso mengiringiku dan pak lurah ikut duduk di meja makan menemani.
Sambil makan saya sampaikan hasil pembicarasn dan rencana dengan pak maniso,
Ya saya titip sama pak lurah untuk mengawasi pak maniso jika dia menggunakan bahan-bahan kimia sintetik di lahannya ...
Ya pak, tapi saya yakin dia tidak akan melakukan lah, kata pak lurah
Saya sih tak yakin, kataku, dan kedua orang itu saling memandang tak percaya dengan apa yang kuucapkan ...
Ya bagaimana mau yakin, sudah saya peringatkan soal jumatan masih belum pergi tu, kataku dilatarbelakangi suara kotbah di masjid.
O begitu to , kata pak lurah dan pak maniso segera menghabiskan makannya kemudian pamit kuiringi senyum saja ...
Lho pak lurah tidak berangkat? Kataku serampangan sambil meneruskan makan, nasi sop bening ditemani sambal tomat dan peyek gereh.
Sialan ni pak lurah, tak menjawab pertanyaanku malah garuk-garuk kepala sambil senyum-senyum ....

Minggu, 26 Juli 2015

Silaturahmi ... Mengisi Energi

Minggu, 26 Juli 2015, bangun pagi karena dering telepon. Tiyok dan Hendro sudah menunggu di teras. Mau ke sawah pakaiannya rapi benar pukirku sambil berjalan ke kamar mandi.
15 menit. Mandi tanpa gosok gigi, ganti baju, berangkat. Terpikir sarapan, ah sudah terus saja, tidak kerja keras ini. Selepas kolam renang arta tirta ragu-ragu, berhenti. Cari petunjuk, rogoh hp mau telpon Setyo. Ternyata sudah ada petunjuk lewat sms.
Basa-basi sambil ngopi sebentar trus ke lahan. Sawah teras siring. Pematang sawahnya rapi dan kecil-kecil membuat Hendro sulit menapakinya, pilih lewat sawah.
Nanti pulangnya lewat jalan bawah saja, he he usul tanda ketidaknyamanan. Untuk lahan ketiga dan kedua yang dikunjungi letaknya di pinggir jalan desa.
Satu jam kunjungan lahan selesai, kembali ke rumah setyo menyusuri tanggul saluran irigasi. Ngobrol soal isu kekeringan sampai sampah di saluran irigasi : pempers dan softex.
Mampir ke kandang sapi kelompok, ganti pembicaraan. Harga sapi untuk besaran, karena seisi kandang sapi jantan.
Jam 11 kembali ke rumah, melihat kolam ikan sambil cuci kaki. Masuk ke rumah meneruskan basa-basi administrasi, sementara Tiyok mengisi formulir registrasi dan inspeksi, saya meneruskan makan ubi rebus.
Ritual selanjutnya makan siang. Rebusan bayam, taoge, kecipir dan kacang panjang ditemani bumbu kacang. Lele goreng dan krupuk.
Ayo makan dulu
Sebentar tunggu Harris
Harris datang, mulai makan, sejam kemudian melanjutkan perjalanan ke Bener.

15 menit sampai di kandang sapi yang pernah diceritakan Haris ke pada tiyok. Mohon ijin melihat sapi dan seorang ibu membukakan gerbang kandang sapi. Begitu melihat ujud 4 sapi yang tersisa di kandang tangan gatal ingin memotret. Tak jadi karena seorang bapak bertubuh kecil masuk ke kandang. Dia seorang diri yang mengurus sapi-sapi ini.
Sebulan lalu 14 ekor mas ... Begitu katanya diteruskan dialog soal bagaimana memelihara sapi sampai bobot mencapai 7 kwintal lebih.
1 jam tidak terasa,
Mampir ke rumah dulu ...
Jam 2 lebih 18 menit pamitan kepada bapaknya Haris.
Perjalanan pulang, ngantuk mulai membayang-bayangi mata. Mereka-reka otak agar tetap terjaga di atas roda dua. Setelah ketemu teman baru berorganik, Setyo dan Pak Semono di kecamatan Loano ada langkah-langkah yang perlu dilakukan lagi. Setelah berinspirasi dengan sapi perlu menetapkan tekad dan niat untuk mempraktekkan.
Berhenti di pom bensin loano. Bersilaturahmi seperti mengisi bensin, menambah energi agar hidup tetap berjalan dan berakselerasi.

Senin, 29 Juni 2015

Organik untuk Siapa?

Tiga hari lalu seorang teman mengunjungi desa Ribggit kecamatan Ngombol, melihat aktifitas petani. Mengunjungi lahan dan melihat aktifitas pengelolaan paska panen.
Bagus, katanya
Ini yang sudah mendapat sertifikasi organik?
Ya, jawabku singkat dan dia memperhatikan kemasan beras itu dan mengambil foto beberapa jepretan.
Ibu, mana lebih penting enak atau organik? Dia bertanya pada mbak Kamti yang mengurus paska panen di ringgit.
Keduanya jawab mbak Kamti bernada ragu.
Temanku ini bercerita ia sering kali makan nasi yang tidak ada rasanya di Indonesia.
Yang penting enak baru organik, katanya, untuk apa organik kalau tidak enak.
Aku hanya senyum-senyum saja mengikuti pembicaraan dua orang ini. Mbak Kamti tentu menjawab dari sudut petani dan temanku berpendapat dari sudut konsumen. Ya mungkin Mbak Kamti lupa kalau padi yang dibudidaya petani sebenarnya hasil dari proses dialog dengan konsumen. Dialog itu yang mendorong suaminya menyilangkan dua jenis padi menjadi varietas baru. Diterima oleh selera konsumen dan bisa dikelola oleh petani dengan hasil yang bagus.

Kenapa padi yang ditanam petani organik dengan lebih susah harus mendapat sertifikasi organik. Beras hasil pertanian modern kok tidak diwajibkan mencantumkan tulisan tentang bagaimana cara budidayanya dan kandungannya, kenapa begitu?

Pertanyaan temanku ini membuat otakku tersenyum kecut, kok tidak pernah terpikirkan pertanyaan semacam itu ya. Tentu bukan mau mempertanyakan atau menyurutkan langkah para petani mengusahakan pertanian organik. Namun jika pertanian organik yang dalam prakteknya sejak di lahan sampai proses paska panen dikerjakan dengan sungguh-sungguh saja harus diinspeksi dan disertifikasi mengapa pertanian modern tidak pernah diawasi. Sedang petani organik harus mengusahakan logo organik dalam kemasan dengan susah payah dan mahal, produk beras pertanian modern tidak pernah diharuskan mencantumkan apa-apa di kemasannya.

Sertifikasi organik berguna untuk konsumen agar produk yang didapat sesuai dengan kebutuhan akan pangan orgsnik, sedang bagi petani agar kerjanya dalam berbudidaya organik mendapat imbalan yang pantas. Nah dalam melindungi konsumen ini kemudian muncul pertanyaan.
Mengapa yang dilindungi hanya konsumen produk organik saja?
Apakah pemerintah tidak mempunyai kewajiban melindungi segenap warga akan haknya memperoleh pangan yang aman?
Ini diskriminasi atau lalai?
Jika pemerintah memang melindungi warganya sudah sepatutnya pemerintah mewajibkan pencantuman informasi cara-cara budidaya dan kandungan yang ada dalam beras yang dikemas dan dijual di toko maupun pasar?
Atau minimal pemerintah memberi contoh dengan memberikan informasi itu di beras yang dikeluarkan Bulog.
(Nanti di bagor beras bulog kita bayangkan ada gambar-gambar peringatan seperti peringatan pemerintah yang ada di kemasan rokok, menarik !!!)

Minggu, 28 Juni 2015

Panas Dingin Air

Sabtu sore, eh keliru, Jumat sore, nongkrong di sebelah selatan pom bensin mBoro, ngopi sambil menulis tentang pesta di petakan sawah. Bayan Samsul membonceng Tikno masuk ke pom. Sekelebat saja menarik pandangan mata pada arit yang dipegang Tikno, seperti sikap siaga menyerang. Mau merampok pom bensin, ah tidak mungkin. Mau tawuran? Rasanya aneh juga.
Tak berapa lama mereka kembali melewati tempat nongkrongku. Saat menenggok akan masuk ke jalan desa mereka melihatku dan berhenti, berjalan mendekatiku. Keduanya memakai sepatu boot, langkahnya berderap seperti tentara walau senjatanya arit.
Arep ngampok po? Kok ngowo arit?
Lep, jatah drop banyu.
Ngowo arit nggo gelut?
Yo ora ... Padake preman po?
Jika kata drop air mulai sering terdengar maka ini menandakan debit air irigasi sudah menyusut. Ada pengiliran arah aliran air.
Dan di sawah mulai sering terdengar suara bernada tinggi. Mulai sering terjadi sabotase dan intimidasi. Sawah mulai menjadi kebun binatang, kata-kata umpatan mulai sering terdengar. Jelas-jelas berkaki dua disebut anjing atau celeng (kok tidak ada yang mengumpat: dasar kucing!). Sawah mulai menjadi medan peperangan : berebut air. Kadang sampai terjadi akhir yang tragis, nyawa melayang.
Seminggu lalu temanku di Bener karena tidak nyaman menjumpai teman-teman petani berebut air lebih baik memutuskan untuk membiarkan tanaman padinya kekeringan dan tak diharapkan lagi panen. Tadi sore ada petugas pengairan di salah satu desa bercerita berebut air di saluran irigasi dengan petugas pengairan partikelir yang menjual jasa pengairan ke salah satu desa di wilayah kecamatan purwodadi.
Petani di kecamatan Ngombol mulai sering menarik slanger mesin pompa air untuk mengairi sawahnya agar tanaman yang sudah berbuah bisa mentes. Sementara teman di kecamatan Purwodadi sudah mengirim komentar via facebook bernada pisuhan kebun binatang tadi.
Air sudah meninggalkan permukaan tanah. Banyak tanah sawah mulai pecah-pecah selebar jari. Tanaman muda enggan tumbuh dan berkembang, tanaman memasuki fase generatif layu.
Musim kemarau, hawa dingin kontras dengan situasi panas berebut sumberdaya terbatas : air irigasi. Panas dingin air cerita yang terus berulang.
(Coba siapa yang berani bicara swasembada pangan saat petani rebutan air, pasti anda akan dilempar lungko men ndang lungo ... He he)

Sabtu, 27 Juni 2015

Membunuh untuk Mengisi Perut (dinamika ekosistem)

Siang menjelang sore. Masih matun. Lambat. Juragan bisa bangkrut kalau punya pekerja macam ini.

Ada pesta di petak sawaku. Undangan :  datang tak dijemput pulang tak dihantar.  Jadi ingat mantra permainan gaib jalangkung.

Kepik helm, kemarin baru terlihat satu, hari ini ada 4 lagi. Saat kucabut rumput tumbakkan ada lagi seekor yang belum terhitung. Satu ini coraknya beda. Yang lain titik-titik hitam bertaburan di warna merah cerah, satu ini warna hitamnya lebih cocok disebut dengan kata loreng. Kita namai saja kepik macan.

Berhenti sejenak mengamati aktivitas kepik-kepik ini. Ilmu perkepikan menyebut ia doyan makan wereng muda (yang belum bersayap) dan telur wereng. Ilmu pengetahuan busa menjadi siraman air penumbuh harapan. Semakin banyak kepik memenuhi undangan pesta datang tak dijemput pulang tak diantar semakin besar harapan keseimbangan ekosistem di petak sawahku. Dan sebagaimana ekosistem maka semua berkecukupan, semua bisa mendapatkan makanannya.

Asyik merangkai kata menarasikan keadaan, harapan dan pengetahuan, muncul Tomkat. Nguncluk, jalan tanpa tengak-tengok, focus pada tujuannya : mencari makan. Kuperhatikan baru satu yang nampak. Sementara penghuni tetap lahanku yakni laba-laba dan precil nampaknya tidak terganggu dengan kehadiran mereka. Wereng punggung putih masih banyak, tak perlu berebut.

Dan memang sebenarnya yang bisa dikategorikan dalam kata berebut ya hanya aku dan wereng. Jelas saja wereng sebagai konsumen pertama dia memakan tumbuhan. Lha manusia menjadikan tumbuhan sebagai sumber pangan dan komoditi ekonomi. Disinilah perebutan itu berakar.

Dalam dinamika ekosistem terjadinya pembunuhan sebagai konsekwensi konsumsi, mengisi perut, makan. Perpindahan energi antar makhluk. Tidak ada yang sia-sia. Ketika manusia mulai ikut campur dan menguasai pembunuhan menjadi kematian sia-sia. Pembunuhan bukan lagi perpindahan energi namun pemusnahan, sia-sia. Hanya bermakna dari sudut pandang kepentingan ekopolitik. Hanya bermakna di dunia manusia.

Dinamika ekosistem adalah kisah di buku kehidupan, sedang dunia manusia lebih sering menyusun kitab goroh.

Jumat, 26 Juni 2015

Wereng Punggung Putih, Kertas Putih dan Awan Putih

Sekolah lapang untuk apa? Kumpul-kumpul dan guyub-guyub medang-macit untuk memenuhi yang sudah tertulis di kertas putih agar bisa jadi tulisan di kertas putih kembali, spj sah ... He he. Begitukah? Begitu kira-kira yang mau dikatakan temanku Hartono Mboz setengah mengritik, setengah mengejek.
Memang sekolah untuk mencari ilmu dan mengembangkan sikap keilmuan. Walau kita sering lebih peduli pada angka nilai yang didapat daripada ilmu maupun sikap keilmuannya.
Hal ini juga terjadi pada pembelajaran petani bernama sekolah lapang. Hanya ngesahke tulisan begitu kata orang.
Sekolah lapang sebenarnya mau membiasakan kita memperhatikan apa yang kita kerjakan dengan apa yang terjadi selanjutnya. Apa yang kita temukan, apa yang kita lakukan dan apa yang terjadi kemudian. Juga membiasakan kita berbagi informasi dan pengetahuan agar kita bisa melakukan perbaikan-perbaikan dalam pekerjaan kita sebagai petani.

Ya, sekolah lapang adalah bekerja dengan seksama.

Kepik Helm menemaniku bekerja sore ini. Sibuk berpatroli di rumpun padi sementara aku terus menyiangi rumput dan gulma subur di sela-sela padi sekarat. Precil juga berlompatan berdansa riang bebarengan wereng punggung putih berloncatan dari rumpun padi yang tergoyang tanganku. Nampak laba-laba yang perutnya membuncit sering kehilangan keseimbangan karena tersambar gerakan tanganku.

Pengeringan lahan dan kehadiran predator di petakan sawahku nampaknya belum mempengaruhi populasi wereng punggung putih. Wereng ini dikenal berkembang mulai saat pembenihan sampai padi umur 30 hari setelah tanam. Saat ini wereng ini mempunyai kecenderungan merusak seperti wereng coklat walau tidak menjadi vektor penyakit lain.  Perkembangannya relatif cepat, telur berjumlah 500 dan menetas dalam 3 hari.

Ini terjadi di sawahku saat ini. Bila diamati dengan patokan ambang batas keberadaan wereng punggung putih satu ekor per rumpun padi maka di sawahku terjadi ledakan hama. Dan harus segera diputuskan tindakan menggunakan senyawa yang mengandung bahan aktif bla bla bla kata ahli pertanian.

Sebaiknya kuambil informasi yang kuperlukan saja, selanjutnya kulanjutkan pekerjaan penyiangan-matun. Walau air di sawahku tinggal yang ada di parit-parit kecil namun tanah ini jenuh air. Akar rerumputanpun berwarna coklat kehitaman begitupun akar weh-wehan. Akar pohon sejenis perdu bernama lombokan saja yang putih. Jadi air harus benar-benar dibuang habis dari lahan.

Sejak kemarin kuamati juga tanaman Gejawan. Tumbuh subur dan tak ada satupun wereng punggung putih yang berminat menyedot cairan tubuhnya. Wereng punggung putih ini memang menjadikan tanaman padiku sebagai target tunggal. Sialan.

Mulih dhisik Mas, sapa Wino sambil lewat dan dung buka puasa. Cuci tangan, bersihkan kaki. Minum air putih sambil menapaki pematang. Duduk di atas motor menunggu tangan dan kaki kering (merokok nikmat tak usah kutulis, bikin ribut). Disuguhi awan putih bergumpal-gumpal di langit beraneka bentuk.

Hemmm, kadang kita senang mematut-matut bentuk awan di langit menurut penangkapan mata dan keinginan tersembunyi kita. Gejala alam di langit kadang medorong sikap keterlaluan sampai dihubung-hubungkan dengan Yang Ilahi. Semacam pertanda mukjizat dan lebih ngeri lagi pertanda kiamat. Dan tak sedikit dari kita ikut asyik menceritakan-kadang sampai berdebat sengit, membuat tafsir dan mencari pembenaran di kitab-kitab besar.

Sementara itu kita sungkan bercerita tentang tanah sawah kita, harapan pada tanaman kita. Menceritakan wereng, kodok precil, laba-laba dan kepik helm yang berbagi kehidupan dengan kita. Menemani kita bekerja.

Kemarin kita telah bicara alam adalah buku besar kehidupan. Dan pekerjaan di sepetak sawah kita adalah imaji buku kehidupan itu.

Kamis, 25 Juni 2015

Padi di Sepetak Sawah (harapan manusia dan ekosistem)

Waduh sedih weruh tandurane, komentar seorang teman, Tito namanya. (Biasanya hanya soal kambing dan cewek yang bisa membuat dia sedih).
Sedih lagi nek weruh wong e, kubalas komentarnya sementara teman lain mengirim komentar tanda tertawa.

Satu sore ini serasa ditertawakan kondisi sepetak sawahku. Menyiangi gulma subur hidup di sela-sela tanaman padi yang hampir mati. Setiap gerak tanganku mencabut gulma-gulma itu dihiasi tebaran segerombolan wereng. Precil -katak muda-  melompat-lompat gembira mengejar wereng, seperti ayam ditaburi gabah.

Kuamat-amati Tomcat belum muncul begitupun kumbang tanah. Laba-laba ada yang  mulai aktif walau laba-laba pembuat jaring tidak terlalu suka dengan kehadiranku. Ia harus membuat jaring lagi.

Sampai besok aku pilih jalan ini dulu, membersihkan lahan dari gulma sehingga sinar matahari bisa mencapai pangkal rumpun padi. Berharap wereng tidak nyaman terpapar sinar matahari. Air di lahanpun sudah kubuang, walau pekerjaan matun menjadi lebih bertenaga.

Temanku sudah mulai menabur abu dan kompos di petakan sawahnya. Waktu melihat itu ada dorongan ikut menabur abu. Kutertawakan saja dorongan itu. Biar saja ini jadi 'laku' membuktikan teori ekosistem.

Lembur po mas, kang tarman berhenti melihatku masih duduk di pematang sambil cuci tangan.
Nunggu bar magrib kang, men samber coloke entek sik.
Tandurane keno wereng yo mas.
Iyo, lha kuwi rupane ... Ra urip ra mati
Njuk dipiyeke yen ra nggo obat?
Kuwi pak Par disawuri awu ro kompos
O ... Nggonku yo keno, sesuk tak sawurane kompos. Lha nggon kono dipiyeke?
Tak sat ro tak watun maneh ...
Yo wis kono nek mulih Mas, wis peteng. Tak golek lawuh nggo sahur anak lanang.
Kang Tarman pergi, segera ganti kaos dan celana trus pulang.

Rabu, 24 Juni 2015

Alam Bekerja dalam Senyap

Jam 16:14 sesruput kopi menuntaskan diskusi hari kedua. Tersisa materi action plan kutinggalkan biar menjadi kerja yang mau mengimplentasikan. Mau memenuhi janji mengamati tanaman di sawah.

Jam 16: 30 sampai ketangi disambut salam lapar dua pedet jantan peliharaan. Ganti baju celana, ngarah arit 10 menit. Ku suap dua pedet itu dengan seember air kucampur tetes tebu trus pergi ke kebun potong rumput.

Baru satu genggaman pak Edi muncul.
Wah belum jadi ke sawah mas, baru tanam tembakau. ( syukurlah ucapku dalam hati. Laba-laba di sawah belum jadi kena kapur panas).
Sudah jadi ke sawah?
Belum, setelah memberi makan sapi. (Kapan? Sudah hampir jam 5 rumput belum didapat).

Dung buka puasa pak edi belum beranjak pergi : tidak buka puasa? ; sudah tadi siang, libur sehari.; hmm semprul.

Pak Edi pulang, kuangkat sebagor rumput. Cukup tidak cukup hanya ini yang kudapat. Dua pedet sapi berebut menyorongkan moncongnya saat kudekati wadah pakan mereka. Kutumpahkan habis. Lipat bagor, letakkan sabit dan batu asahan, ganti celana dan kaos. Duduk trus ngopi sampai jam 18:25.

Sampai di sawah sudah gelap. Nyalakan senter terangi mata kaki menapaki pematang. Jongkok mengamati rumpun padi. Beberapa kodok mengamati perilakuku. Wereng bergelantungan di jaring laba-laba. Laba-laba pemburu berlarian. Beberapa jenis kepik berjalan kesan-kemari seperti pramusaji sibuk melayani pelanggan. Semut-semut kecil juga sibuk berjalan. Pindah ke petakan lain.

Laba-laba menyambut pandangan mataku. Malam ini semakin banyak daripada tadi malam. Alam terus bekerja, tak peduli pagi, siang dan malam.

Hasil belajar malam ini, pengeringan lahan sawah membuat alam bekerja menyeimbangkan ekosistem yang beberapa hari lalu dikuasai wereng. Tanaman padi nampak sedang membebaskan diri dari cengkeraman jenuh air di perakarannya. 

Harapan manusia tumbuh saat mengamati alam bekerja. Dalam senyap.

Menjawab keraguanku dan mulai kujawab pertanyaanmu kawan ... 

Besok kucari lagi ..

Selasa, 23 Juni 2015

Mencari Jalan Hidup Bersama

Jam 22.23 berhenti di sumberejo, perjalanan dari ringgit mau mampir popongan. Dingin mencengkeram kulit tangan dan kaki.

Jam 12.16: 38 ada sms dari Edi Ketangi : tanduran pari keno penyakit opo? Uripe ra apik kiro-kiro panen po ra?

Kujawab saja sekenanya karena baru pusing berdiskusi. Berencana sore ke sawah lihat keadaan. Ternyata diskusi sampai sore, tidak selesai lagi, besok diteruskan lagi ( ngalamat pekerjaan sawah terbengkelai ).

Sore, potong rumput mengejar waktu. Hanya jarum jam yang berjalan cepat, isi bagor berjalan lambat, jam 5 rumput baru penuh. Sapi di kandang sudah teriak-teriak seperti tukang demo.

Jam 19:18 dari ringgit,  kutanggapi lagi sms tadi siang  : coba taburkan kapur untuk mengusir wereng dan mengurangi keasaman tanah. Setelah beberapa saat  mengirim sms muncul pertanyaan sendiri. Menabur kapur bagaimana dengan laba-laba.

Dua hari lalu gelisah tambah sedikit rasa penasaran melihat tanaman padi yang kutanam. Pertumbuhan dan peranakan lambat, di beberapa bagian nampak batang tanaman bercak-bercak coklat. Saat kugoyang-goyangkan byur wereng muda berjatuhan ke lumpur seperti debu, sementara wereng dewasa jalan ke samping berlindung dari pandangan mata di seberang batang padi.

Beberapa rumpun padi kecabut dan akarnya nampak tidak tumbuh sehat. Membandingkan,  kucabut beberapa jenis rumput dan terlihat akarnyapun berwarna coklat gelap. Ya bagaimana mau tumbuh baik, akar tidak optimal menyerap makanan batang diganggu wereng. Kondisi sempurna bagi tanaman padi untuk mati.

Mengeringkan lahan bisa membuat keasaman berkurang dan membangun iklim mikro yang tidak mendukung bagi perkembangan wereng. Benerapa jenis laba-labapun akan terbantu menjelajah lahan tanpa gangguan genangan air. Walaupun anjing tanah juga bisa ikut berpesta si pangkal batang padi tanpa peduli nafsu makannya bisa merusak pangkal batang tanaman.

Jadi pilihan yang mau dilaksanakan yang mana? Mengeringkan lahan atau menabur kapur?
Memastikan pilihan itu kurogoh saku kiri, ambil hp dan pilih menu senter, byar lumayan menerangi jalan di pematang sawah.
Jongkok kuamati beberapa rumpun padi. Eh berjumpa lagi dengan wereng. Nampak juga laba-laba muda sedang belajar membuat jaring. Ada juga yang berlarian saat tanganku menggoyang tanaman, masih terlalu muda berwarna hijau muda.

Menaburkan kapur rasanya menjadi tak benar, abu dapur? Sama saja. Laba-laba muda bisa mati. Jaring-jaring perangkap yang dibangun laba-laba itu juga akan hancur. Segenggam kapur maupun abu rasanya sudah terlalu banyak merusak kehidupan laba-laba.

Nanti siang akan kulihat lagi kondisi sawah dan tanamanku, memastikan tindakan. Pagi ini permisi mau diskusi.

Mandi
Gosok gigi
Bersihkan gusi
Ganti baju, hitam lagi
(Tanda belum ketemu jalan damai dengan wereng dan anjing tanah)

Senin, 22 Juni 2015

Tentang Kemasan : bungkus atau isi ...

SMS kedua dari Surisman As : sudah jadi belanja plastik? (Terkirim dua hari lalu dan dua sms senada tidak kujawab, males membuat alasan).

Senin sudah siang, mampir ke Popongan mengambil gambar rumah kompos trus berangkat ke jogja. Toko plastik dekat pku tujuan utama, pilih-pilih plastik. Bingung, angkat telepon. Duskusi online, ambil keputusan beli walau lebih mahal dari harga di klaten, mungkin juga karena gonjang-ganjing nilai tukar rupiah yang jeblok. Beli di jogja dengan uang rupiah nilainya ditentukan dollar, amerika sialan.

Tak ada gunanya berdebat soal itu, beli dua jenis : untuk kemasan 2,5 dan 1 kg. Ide terlambat: cek harga ke toko yang lain. Menuju ring road selatan. Tak tahu jalan, ambil jalur ke selatan entah lewat mana akhirnya sampai. Bertanya dan dijawab tidak ada, yang ada untuk kemasan 5 kg, 35 ribu sekilo. Yang ada bukan yang dicari maka tidak beli.

Urusan plastik selesai. Menyusul urusan cetak stiker. Kembali ke utara menuju gejayan. Masuk printshop tanya, dijawab, berhitung, berkesimpulan : mahal. Urung cetak stiker di jogja, pulang ke purworejo. Menantang matahari sore, silau.

Cetak stiker di purworejo. Perkecil ukuran dan pilih bahan yang murah saja. Lumayan per biji jadi lebih ekonomis. Kualitas? Nanti kita diskusikan lagi ...

Makan malam di warung bakmi depan smp muhi, ada undangan ngopi ke cangkrep via bbm, malam ini selesaikan urusan stiker dulu. 

Cutter, penggaris besi, meja kaca tersedia diterangi lampu hemat energi setara 80 watt. Ada yang kurang, segelas kopi. Ke dapur, sial kopi tinggal sepucuk sendok dan gula tinggal butir-butir putih menempel di blong plastik. Beli ke warung dulu ... (Kapokmu kapan).

Pulang dari warung ceret sudah jadi poltas, membunyikan peluit. Matikan kompor, sesendok besar kopi sudah teronggok di dasar gelas tuang aIr panas dan aduk. Tambah sedikit gula tuang air lagi dan aduk kembali. Begitu ritual adonan kopiku, pasti enak, tak percaya? Terserah ...

Sepuluh lembar stiker A3 melawan mata menua didukung teknik manual jegleg. 2 jam baru selesai, lelet ... Terserah yang penting selesai sambil berharap besok tidak ada sms ketiga ...

Sekarang kita kembali ke pokok pembicaraan soal kemasan. Kemasan bagus dan menarik akan mempermudah pemasaran melakukan penetrasi pasar ke berbagai segmen. Tampilan bagus menambah kepercayaan diri petani menjual produknya bersaing dengan produk industri besar maupun barang import.

Apakah kemasan bagus mahal? Jika dihitung satuannya murah namun perlu investasi besar karena harus dibuat dalam partai besar. Rasanya di sinilah kita merasa belum perlu. Saat ini kita pilih jalan menonjolkan fungsi kemasan agar produk sampai ke konsumen dalam keadaan aman. Sambil berharap bisa lebih menarik karena sederhana sambil menjaga keseksamaan dalam mengelola isinya.

Jadi jalani saja, tetap dengarkan kebutuhan dan keinginan konsumen dan kembangkan kreatifitas mendistribusikan produk dalam kondisi dan posisi kita. Sambil tetap sederhana dan seksama menjalankan perubahan, setapak demi setapak karena jalan kita bukanlah jalan tol tetapi jalan setapak pematang sawah kita.

Sabtu, 20 Juni 2015

Tani, Tanduran dan Nenandur

Tandur
Tlaten
Temen
Titen
Adalah sedikit dari ribuan kata yang sering digunakan untuk mengidentifikasi tani utun. Dalam hidup petani utun kata-kata itu menggambarkan eksistensi dan identitas mereka dalam peradaban. Petani utun adalah pengembang peradaban, bukan sekedar kuli bagi kelangsungan peradaban manusia di bumi.

Kata-kata itu adalah penanda kerja petani utun melibatkan dua titik pendulum kerja manusia di bumi: okol dan akal. Mata manusia modern sering rabun melihat kerja petani. Manusia modern melihat kerja petani hanyalah kerja penuh derai keringat bercampur debu dan lumpur menjadi peluh. Manusia modern melihat kerja petani sebagai keluh kesah yang hanya pantas dihindari.

Manusia modern juga yang menempatkan petani sebagai sumberdaya yang harus digunakan sebagai pendukung peradaban yang sedang mereka bangun. Wajah modernitas dengan congkak membuat minder petani utun merasa diri sebagai manusia rendahan. SDM rendah, hidup dengan otot dan okol saja, begitu kata yang sering tergambar.

Dan saat ini petani utun itu mulai tersingkir. Muncullah generasi petani modern yang canggih dengan segala pengetahuan dan perlengkapan penuh energi tingkat tinggi.

Petani-petani dengan segudang ilmu ini tentu berkasta SDM tinggi. Semua pekerjaan bertaninya sistematis, berstruktur, teratur dan rapi. Semua hambatan dan masalah sudah disiapkan solusinya. Jadi bertani adalah pekerjaan pabrikasi produk.

Sebagaimana lazimnya industri maka senjata pamungkasnya adalah efisiensi. Apapun yang menghambat efisiensi layak disingkirkan. Mekanisasi adalah keniscayaannya. Kerbau dan sapi tidak efisien maka diganti traktor. Ibu-ibu tani tukang tanam tidak efisien maka diganti mesin tanam. Tenaga manusia tidak efisien maka diganti dengan mesin. Mengatasi gulma dengan tenaga manusia tidak efisien maka diganti dengan cara kimiawi dan mekanisasi.

Bergantung pada hukum alam rantai makanan dalam ekosistem hanya ada di bangku sekolah, di lapangan mengintervensi alam dengan material kimia sintetik mulai dari pupuk, pestisida, hetbisida, fungisida, bakterisida dan semacamnya. Semua dibuat demi efisiensi.

Tiba saat panen muncullah mesin pemanen, panen dengan cara lama menyebabkan kehilangan hasil katanya. Pengeringan dengan sinar matahari juga tidak efisien maka dibuatlah mesin pengering.

Lalu apakah semua itu sudah menyelesaikan masalah yang dihadapi peradaban modern? Hasil meningkat dan kecukupan cadangan pangan serta peningkatan kualitas pangan?

Bukankah cara-cara modern itu justru meningkatkan ancaman keselamatan peradaban manusia modern?

Ledakan hama misalnya tidak pernah teratasi dengan material hasil ilmu pengetahuan modern. Berbagai benih unggul terus diintroduksi mengintimidasi petani yang menggunakan benih lokal, walau akhirnya juga tidak pernah terbukti unggul menghadapi serangga yang hidup di ekosistem sawah.

Kebimbangan itu mulai tampak nyata saat ini. Saat target-target produksi sudah ditetapkan oleh mereka yang hidup di negeri di awan nampak sulit tercapai maka turunlah para kesatria menuju bumi petani.

Menggerak dan mendesak petani memenuhi target para petinggi negri di atas awan. Semua sumberdaya digelontorkan untuk menambah kekuatan sumberdaya pokok yakni petani. Jadi petani adalah sumberdaya? Ya dalam pertanian modern begitu. Sama dengan pupuk, sama dengan traktor, sama dengan benih? Ya ...

Petani, kita ... Dianggap begitu?
Memang mau dianggap seperti apa?
Jadi kita ini hanya dihargai okolnya saja?
Memang masih punya akal?

Jika kita punya akal maka kita hanya akan belajar pada tanah dan tanaman. Orang-orang modern dengan ilmu setinggi langit tidak pernah bisa menyamai kemampuan alamiah tanaman yang sering kita jumpai di alam.

Kita ini juga tidak pernah merasa selalu disindir oleh alam. Pengetahuan di kepala membuat mata rabun, bagaimana mungkin tanaman yang kita rawat dengan berbagai cara tidak pernah bisa menyamai tanaman yang hidup sendiri-alamiah.

Bukankah pengetahuan itu bukan lagi bentuk rumusan akal namun rumusan nafsu alias okol? Memang modernitas bekerja dengan akal, namun akal itu sudah menjadi okol karena kehilangan jiwanya yakni hati.

Maka sudah saatnya kita tinggalkan cara-cara pertanian modern yang penuh okol itu. Kembali ke kerja petani utun membangun peradaban :
Tandur
Tlaten
Temen
Titen

(Selamat hari Senin yang terlalu serius )

Jumat, 19 Juni 2015

Petani dan Swasembada Pangan

Sampai hari ini, Sabtu 20 Juni 2015, masih belum paham alasan orang ribut soal swasembada, ketahanan maupun kedaulatan pangan.

Itu semua sebenarnya tidak ada dalam kamusnya petani. Yang ada di kamusnya petani adalah mencari rejeki dengan mengolah tanah, nenandur. Saat panen melimpah disyukuri sebagai kemurahan yang Kuasa. Jika panennya sedikit berserah menerima 'rejekine sih dikelongi' atau 'durung rejekine'.

Lha ini orang tidak ikut menanam, tidak ikut keluar modal, tidak ikut menanggung beban dan resiko kok membuatkan target dan mengharus-haruskan swasembada dan tetek bengeknya.

Coba bayangkan kalau petani adalah pekerja pabrik. Siapa yang memberi gaji? Siapa yang menetapkan standar upah? Adakah yang memberi thr ? Adakah yang membayarkan asuransi kesehatan, kecelakaan, kematian maupun pensiun?

Kemudian kalau hasil kerja melebihi target adakah yang memberi bonus pendapatan. Bukankah selama ini satu-satunya bonus yang diterima petani bila hasil melimpah adalah harga murah? Kelebihan hasil sering menjadi kenyataan buruk. Dan selama ini apakah yang suka membuat target produksi itu mau membeli dengan harga lebih saat panen berlimpah. Bukankah yang berlaku adalah harga pasar yang ditetapkan jaringan pedagang berdasar hukum besi ekonomi? Kalaupun pemerintah menetapkan harga, pedagang mana yang sudi menggunakan penetapan itu? Dan apa yang bisa dilakukan pemerintah saat pedagang tidak menggunakan penetapan harga tersebut? Tidak ada kan?

Jadi soal swasembada, ketahanan maupun kedaulatan pangan sebenarnya bukanlah usaha mengejar peningkatan produksi. Bukan hitung-hitungan jumlah panen disandingkan dengan data statistik jumlah penduduk dan tingkat konsumsi. Swasembada, ketahanan maupun kedaulatan pangan menjadi benar jika diletakkan pada problem kondisi dan posisi petani.

Jika usaha-usaha swasembada, ketahanan maupun kedaulatan pangan hanya berkutat pada ketersediaan benih unggul, pupuk, mekanisasi pertanian maupun infrastruktur pertanian maka usaha-usaha ini tak jauh dari sistem tanam paksa yang kita kenal lewat pelajaran sejarah. Petani dipaksa meningkatkan produksi yang tidak berhubungan dengan peningkatan kesejahteraannya karena yang berlaku kemudian adalah hukum pasar.

Jadi kondisi dan posisi petani sebenarnya tak pernah berubah dihadapan mereka yang membuat target-target itu. Hanya salah satu komponen dari sistem tanam paksa.

Kondisi dan posisi ini mungkin berubah kalau kita mengembargo diri dari kepentingan-kepentingan di luar petani. Jika kita mengubah aturan permainan, bukan ikut arus ganti pemain maupun tim.  Swasembada, ketahanan maupun kedaulatan pangan adalah soal kesejahteraan kita bukan soal target peningkatan produksi pertanian pangan.

Selamat malam minggu .....

Border yang membuat Keder

Selasa Pahing, Hari Waisak 2 Juni 2015 bertemu teman-teman bagian pengembangan pengetahuan dan pwmbelajaran Perkumpulan Tani Organik Purworejo, merefleksikan kegiatan usaha bersama yang sudah dilakukan petani.

Berbekal blangko bussiness canvas model yang telah kufotocopy sebesar lapangan karambol (sempat terkaget-kaget dengan layanan fotocopy 'apa mau loe' jaman sekarang) kuminta teman-teman berdiskusi. Menuliskan hasil diskusi di sticky note dan menempelkan di kolom-kolom yang tersedia.

Selasa legi, 16 Juni 2015 pergi ke kota nogosuwi (nama batu akik) Purbalingga. Memilih rute via Sempor supaya lebih cepat ternyata lebih deg-degan karena jalan berkelok menanjak tepi jurang. Selamat tiba di alun-alun Purbalingga dan Pak Wur yang nyetir bilang: nanti pulang lewat Sokaraja saja. Kami ikut saja lantaran hanya dia yang bisa nyetir.

Bingung dengan rute menuju ke tempat pertemuan, angkat telepon dan tunggu pemandu arah. Pak Wanto muncul tak seberapa lama dan segera meluncur ke gedung Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian.

Bertemu dengan petani anggota Pamor Bangga (paguyuban masyarakat organik purbalingga), berkenalan trus diskusi. Materi diskusi sama dengan pertemuan tanggal 2. Dan jawabannya ternyata sama (jadi siapa yang telah membocorkan kunci jawaban diskusi ini ... He he).

Terasa manis, lebih pulen, tidak cepat basi, warna lebih cerah begitu para petani mengidentifikasi beras yang dibudidaya secara organik. Manfaatnya? Sehat.

Sehat? Mengapa? Karena dibudidaya dengan bahan-bahan alami dan benih lokal.

Menggunakan pupuk kimia sintetik? Tidak sama sekali, kami menggunakan kompos.
Pupuk organik? Kami menggunakan kompos buatan sendiri?
Menggunakan pestisida, fungisida dan bakterisida? Kami menggandalkan keseimbangan agroekosistem dengan penggunaan kompos dan pengaturan air.
Menggunakan herbisida? Kami menggunakan cara mekanis untuk pengendalian gulma, gosrok dan matun.

Jadi itu yang membuat konsumen mau membeli beras petani? Ya, karena konsumen percaya pada kami.

Percaya? Ya, karena kami jujur.
Jujur?

Kok tanya terus? Mas tidak percaya?

Percaya, jujur dan kata-kata saleh semacam itu kan berlaku kalau terlihat wujud tindakkannya. Jadi bagaimana kepercayaan, kejujuran dan semacamnya itu ditunjukkan. Dan siapa yang menjamin.

Diam (saya teringat sesepuh petani organik yang melontarkan kata-kata keras saat kupertanyakan integritas keorganikkan produknya : belajar darimana kamu !!! Begitu dia membentakku ... He he ... Padahal aku belajar padanya.)

Jadi bagaimana kita menjamin mutu produk kita, sedang kita dan lahan kita ada di tempat yang berbeda-beda?

Kita perlu menyusun kesepakatan mengenai batasan-batasan keorganikan menurut kita. Kemudian kita jabarkan langkah-langkah budidaya dan paska panen untuk menjaga agar produk kita tetap organik.

Benih, kita gunakan benih lokal dan sudah dikembangkan di lahan organik milik petani.
Kompos, kita buat sendiri dari bahan dari bahan-bahan organik di lingkungan pertanian kita.
Lahan, kita khususkan lahan organik hanya untuk budidaya secara organik. Nah, sebentar sebelum membahas langkah selanjutnya.
Lalu apa yang membedakan lahan organik dengan lahan yang bukan? Jika lahan di sekeliling kita untuk budidaya bukan organik lalu bagaimana kita berupaya agar tidak terjadi pencemaran?

Diam lagi.

Harus ada penyaringan air.
Harus ada tanaman pembatas.

Harus? Siapa yang mengharuskan?

Ya karena kita berkehendak jujur. Karena kita menerima kepercayaan konsumen sebagai tanggung jawab.

Jadi kolam penyaringan air dan tanaman pembatas sudah dibuat?
(Nampak ragu plus ekspresi jengkel ... Crewet betul ini orang ... Mungkin begitu kata dalam hatinya) ... Sebagian ...

Baik, sebagian ... Kapan selesai ...?

Selasa berikutnya kalau kolam penyaringan air dan tanaman pembatas sudah diselesaikan, masih ada yang harus kita lakukan berhubungan dengan kejujuran dan kepercayaan itu.

Jadi selasa adalah hari cerewet ....

Kamis, 18 Juni 2015

Saat lidah bertemu nasi beras merah

Menyatap nasi beras merah menimbulkan pengalaman yang tak nyaman untuk lidah, sepo. Kadang indra penciumanpun ikut memindai ketidakramahan, apek dan bau dedak (jadi ingat memberi makan ayam he he).

Bu Cici Wae bilang : kalau belum biasa yo memang ngak enak. Tapi kalau masaknya diliwet dulu jadi empuk, airnya dibanyakin pakein kayu manis jadi ngak berasa bekatulnya.

Bekatul (kulit ari beras) banyak mengandung vitamin B. Betul itu kata otak, tetap saja lidah ini maunya mengumpat : keras, kasap, apek.

Kembali kata bu Cici Wae : aku masak 250 ml berase (segelas) aire 800 ml (diliwet ya ..). Nggo ngurangi apek rasa bekatul kutambahi 0.5 cm kayu manis ( minum air rebusan kayu manis saja ada manfaatnya ... Apalagi tambah beras merah). Nek ra ono kayu manis yo nggo bawang putih 1 siung nggak usah diiris. Pencet saja nggo tangan sing penting pecah .... (Nah) sik biasane ngomong berase ra enak sepo dadi ngomong kok empuk kok enak ....

Jadi berasnya sudah ada dan tersedia, sudah tahu cara memasaknya tinggal cari yang masak ...

Selamat malam sabtu semuanya ...

Rabu, 17 Juni 2015

Ngadem

Sebenarnya saya mau cerita kegiatan di sawah. Belum selesai kutulis sudah ada dua sms. Keduanya pertanyaan bernada perintah.
Mbak Kamti: mas wis sido njupuk duwit?
Surisman As : mas sudah jadi cetak stiker dan beli plastik kecil?

SMS pertama kujawab: segera meluncur ke bank. SMS kedua belum kujawab, sedang cari kata-kata yang tepat (tepatnya alasan tepat).

Di bank,
kok ndak pakai atm mas?
Tidak bu, nanti tidak bisa ngadem dan beresiko.
Beresiko bagaimana?
Resiko tidak ketemu anda mbak.
Teller itu tersenyum, menyerahkan uang dan aku segera pergi, tidak enak dengan bau badan setelah dari sawah tidak ganti baju dan celana. Baru sadar bau keringat dalam ruang ber ac benar-benar teror ....

Tanaman, pasien dokter spesialis?

Beberapa hari matun belum selesai, orang lalu lalang melintas sawah yang kukerjakan sampai bosen melihat. Untung saja mereka tidak mengusirku dari pandangan mereka. Sekedar candaan atau ejekan terlontar juga tidak mempercepat kerjaku. Tadi malam pijat urut (pijat sungguhan nggak pakai plus-plus) membuat bangun lebih pagi tapi juga tidak membuat pergi ke sawah lebih pagi. Hanya memperpanjang waktu menikmati kopi. Cari sarapan pagi tapi warung tutup, eh lupa puasa hari pertama. Pagi-pagi sudah goblok.

Tenggak-tenggok, sepi ganti celana baju di tepi jalan di bawah pohon ketapang. Baru saja turun ke sawah mbah Pawiro sudah pulang, 'ngaso mas' sapanya sambil mengayuh sepeda pelan. Belum sepuluh menit istrinya pak Gito lewat, 'matun ra rampung-rampung' kutenggok dan kukemparkan seringgai, sial bukannya takut malah tertawa. Asem.

Ah sudah kuteruskan bekerja, menyiangi gulma dan membalik tanah. Entah darimana tiba-tiba ada pikiran aneh melingkar-lingkar di kepala. Tanaman padi ini kok sering dianggap pasien di rumah sakit. Harus diinfus dan disuapi. Disuntik dan disuruh minum obat.

Eh benar lho tanaman padi ini seperti pasien sakit parah. Tidak bisa bergerak pindah tempat. Makan, minum, mandi, kencing dan bab di tempat. Ngebrok. Jadi ya benar kalau ia mesti diinfus, disuapi, disuntik dan diminumi obat.

Jadi petani sudah tepat berlaku seperti dokter dan perawat bagi tanaman padi. Dan jauh lebih sulit bidang keahlian ini karena pasiennya tidak bisa diajak bicara.

Banyak petani di negeri kita mestinya punya gelar spesialis karena bisa melakukan diagnosis yang jos gandos. Mampu meramu berbagai macam asupan (jadi semacam ahli gizi) sehingga tanaman gemuk. Mampu menjadi formulator bahan-bahan kimia sintetis (semacam alkhemist mungkin) yang membuat tanaman terhidar dari menu makan serangga. Jadi untuk urusan perawatan dan penyelamatan tanaman mereka benar-benar spesialis (semacam SAR dan BNPB, kadang juga lebih hebat dari densus 88 dalam soal pemberantasan serangga yang digolongkan teroris).

Pikiran aneh-aneh ini tiba-tiba berhenti saat sampai di tepi sawah. Serumpun tanaman padi yang tumbuh sendiri di pematang seperti sedang mengejek pikiranku.

Sialan, tadi pagi diejek teman-teman petani. Siang hari diejek serumpun tanaman padi. Untung saja bulan puasa jadi sungkan mau marah. Eh marah sama tanaman? He he baru terasa kalau masih waras.

Kuperhatikan dan kubandingkan dengan tanaman di sawah, si pasien istimewa yang ditanggani dokter spesialis dan perawat profesional. Tanaman terlantar ini batangnya lebih kokoh, rumpunya besar lebih dari 50 anakan produktif, tidak ada tanda-tanda serangga yang memangsa tanaman ini.

Jadi berpikir, jangan-jangan saat kita (petani) menjadi dokter spesialis dan perawat profesional bagi tanaman, satu-satunya yang kita lakukan adalah mal praktek. Ternyata tanaman bukan pasien yang tergeletak di ranjang rumah sakit. Ia memang makhluk hidup yang tidak berpindah karena sudah dilengkapi alat dan kemampuan untuk mencukupi hidup dan perkembangannya.

Waduh sehari kok sudah goblok dua kali. Jadi kegiatan matun ini harus kuteruskan tidak? Tanyaku pada si tanaman padi terlantar itu. Tentu saja dia diam saja, kalau dia bisa bicara maka akan dapat satu lagi goblok.

Banyak Anakan (tunas)

Ada pertanyaan : bagaimana agar tanaman padi anakannya banyak?
Jawaban yang spontan yang sering disampaikan:
- tanam benih muda
- tanam dangkal
- tanam tunggal
- tanam akar dan batang horisontal
- air macak-macak
- cukup pupuk
Semua jawaban di atas benar. Dan menjadi lengkap saat kita juga mencari jawaban bagaimana tekstur dan struktur tanah kita. Bagaimana kita menjaga dan mengembangkan struktur tanah bagi kehidupan. Sejauh mana kita membantu kondisi biologis tanah kita agar hidup. Dengan demikian kondisi kimia tanah baik untuk kehidupan tanaman.
Selanjutnya bagaimana kita merawat tanaman. Apakah kita masih menganggap 'matun' hanyalah soal mengatasi gulma? Ataukah tindakan ini adalah soal memperbaiki struktur tanah sehingga akar tanaman dapat berkembang baik?
Jika matun adalah tindakan untuk membantu tanaman tumbuh baik maka jawaban ini harusnya menjadi jawaban spontan saat ada teman petani bertanya: bagaimana agar tanaman padi anakannya banyak.

Benihnya Apa?

Setiap kali ada kesempatan menunjukkan potensi produktivitas sebutir padi, selalu ditanyakan 'benihnya apa?' kadang dengan pilihan kata yang lebih terkesan intelek 'varietasnya apa'.
Mungkin pencitraan pertanian modern dengan pupuk berenergi tinggi dan benih unggul benar-benar telah merasuki bahkan menguasai pikiran kita. Setiap ada tanaman yang mempunyai produktifitas tinggi dianggap hasil karya pertanian modern.
Akibatnya kita lupa bahwa setiap kehidupan di bumi pada dasarnya adalah otonom. Dia bisa tumbuh dan berkembang pesat saat menemukan situasi dan kondisi yang tepat.
Demikianpun dengan padi. Satu benih padi bisa tumbuh dan berkembang menghasilkan anakan produktif sampai puluhan (rumpun dalam gambar ada 92 anakan produktif). Bila ia mendapat tempat hidup yang sesuai.
Kesesuaian inilah yang senantiasa menjadi bahan pembelajaran kita. Kita perlu mengasah budi dan akal kita dalam hubungan hayati dengan tanaman. Sambil terus mengembangkan sikap asih atas tanah dan air, agar kebutuhan insani kita tercukupi dengan budidaya selaras alam.
Jadi bukan benihnya apa, namun dalam situasi dan kondisi bagaimana setiap benih dapat tumbuh dan berkembang optimal yang mestinya selalu menjadi pertanyaan kita.