Rabu, 07 September 2016

Mencari (Cita Rasa) Kopi Purworejo

7 September 2016
Tujuan awal Gunung Teges. Terlewat satu desa Sokogelap. Sampai Purbayan melihat kopi terjemur di tampah bambu. Rumah kosong. Bertegur dengan tetangga rumah dan kehilangan minat ditunjukkan buah kopi berdesakan membusuk dalam karung, agar gampang dikupas katanya. (Ingin mengoceh dan memaki, demi sopan santun berpamitan dan pergi).

Pak Haji yang punya banyak kopi mas, lalu ia berikan petunjuk arah (baiklah kucatat sebagai berkah kesopanan tadi).

Di depan rumah bertingkat berhenti dan kulo nuwun satu dua kali. Tak ada respon. Kuulangi. Masih sunyi. Menyetel volume mulut lebih keras. Tak bermanfaat. 

Oh jam 12. Waktunya sholat. Dasar kafir, he he ...

Seorang ibu keluar. Menyapa. Langsung saja kuarahkan pada soal kopi. Ia berkata belum ada lagi kopi di rumah karena kemarin sudah dibawa ke pengepul di pasar Kemiri. 

Dengan sungkan ia buka bungkusan tas plastik sambil berkata : yang ada kopi semacam ini. Waduh biji kopi hitam bulukan beraroma jamur menyengat. 

Nyaris kehilangan minat kedua kali kalau saja ibu ini tidak segera menyusul dengan cerita kalau kopinya tidak seperti kopi di tas kresek ini. Ia bercerita memetik kopinya jika sudah benar-benar tua. Istilah kerennya petik merah. 

Rasanya nyaman duduk di tangga teras sambil mendengarkan cerita ibu ini mengelola buah kopi. Jadi penasaran juga bagaimana ia mendapat pengetahuan ini, terlebih saat ia mengatakan sepuluh hari lagi kemungkinan ia sudah bisa menyiapkan biji kopi lagi.

Baiklah kutunggu sepuluh hari lagi.

Jumat, 28 Agustus 2015

Pak maniso

Bubar dari cangkrep jam 1. Bubar karena seorang teman sudah ditelepon istrinya (untuk kedua kalinya), minta dibawakan obat batuk dan kawatir anak keduanya yang baru disapih dari asi eklusif terbangun dan bikin huru-hara menggagalkan penyapihan.
Saya bersyukur saja karena masih dalam program meredakan infeksi dari pangkal jempol kaki. Saya terbantu oleh suami setia ini. (Mohon dicatat bersetia pada pasangan itu bukan hanya kebaikan bagi keduanya namun juga membuat teman menjadi baik ... Ha ha ... Ribet punya teman yang suka ngibuli istrinya).
Sampai rumah, parkir motor, buka pintu, masuk rumah, ganti baju, ambil sikat gigi colekan pasta gigi 1 cm, buka pintu belakang, masuk kamar mandi tanpa mengunci pintu. Gosok gigi, cuci muka, berhanduk, masuk rumah, ambil gelas tuang segelas air putih dan teguk habis.
Masuk kamar, rebahkan badan, tarik sarung sampai atas telapak kaki, tidur ...

Dan jam 06.15 tak berhasil tidur. Beranjak dari kasur trus jalan-jalan di belakang rumah. Bingung. Panaskan air lalu buat secangkir kopi. Menyruput kopi sambil mengisap rokok (maaf gambar saya blur kan dari bayangan anda).
Enak sekali, mungkin orang bisa membayangkan begitu, bagiku enaknya di mana sedang kucari-cari. Tidak bisa tidur, minum kopi pahit kental dan mengisap rokok kretek lebih mirip rangkaian kegiatan orang goblok. Jelas !!!
8
Om tenggok pekerjaan mas agus nggak?
Ya, sebentar aku habiskan kopi (maksudnya meneruskan kegiatan orang goblok tadi). Tak apa dia tidak tahu apa yang terjadi, jawabanku sudah membuatnya girang. Punya tiket bebas keluar kantor. Walau dia juga tidak tahu juga karena saya punya janji datang di satu desa yang dilewati perbaikan jalan yang dikerjakan temanku. Jadi impas.

Sampai di desa mas agus langsung mengajak ke rumah pak lurah.
Begitu melihat pak lurah langsung ingatanku muntah dari dalam otak. Pernah bertemu sekali dan mengesan karena pertemuan 30 menit pertama yang beliau sampaikan tak jauh dari bagaimana mendapatkan bantuan.
Saya lurah baru mas, bagaimana saya harus 'ngopeni' pendukung saya kalau tidak mencari kegiatan di kabupaten. Ya kalau saya keluarkan harta saya ya bisa bangkrut mas, begitu alasan. Ok rasional (dalam budaya pemilihan yang menjadikan demokrasi sebagai panggungnya orang-orang dungu dan politik adalah sumber penghasilan orang-orang serakah).
Pak Lurah, sambil jabat tangan, rumah pak marino di mana?
Maniso, Mas ... Petani organik to?
Ya pak ..
Ya Maniso, Marino ki preman, malah repot nanti. Sudah bapak tunggu di sini saja, ngopi-ngopi dulu nanti tak jemput dia di rumahnya.
Yach jadi nggak enak pak ...
Sudah tidak apa-apa, saya senang jenengan sampai sini kok ...
Modus, bathinku ....
Ngopi lagi .... Kopi dari jambi, terbayang hitam pekatnya. Ok lah ngopi tetap menarik, tambah tidak tidur 24 jam jelas bukan campuran menarik. Jelas !!!

Jam 10.05
Lha ini pak maniso mas, sudah datang kata pak lurah
Lho pak bejo to
Nggih pak
Pak Lurah, boleh saya ajak mas bejo ke rumah saya
Ya boleh, jawab pak lurah singkat ...
Ajak saya ke lahan jenengan dulu sahutku

Di lahan pak maniso menceritakan bahwa dia sudah mulai mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetik sejak tahun 2008.
Sudah 4 musim tanam ini saya hanya menggunakan kompos dan semprotan alami mas ...
Saat tanam kedelai bagaimana, tanyaku
Ya pakai kompos dan urine kelinci mas ...
Luas lahan ini berapa pak
140 ubin mas
Batas sebelah timurnya mana?
Pak maniso berjalan ke arah timur dan kuikuti ...
Ini mas
Ia tunjuk pematang kecil sambil memandang wajahku dan aku coba tak mengeryitkan jidatku.
Kurang tinggi ya mas
Ya
Musim depan saya buat kolam penyaringan air di sisi sini mas, katanya seolah sudah tahu arah pembicaraanku ... Dan tak ada yang kutanyakan lagi, karena pak maniso sudah paham pertanian organik dan sudah mengatur rencana untuk menjamin tata kelola pertanian organik di lahannya.

Sudah jam 11 lebih, jenengan jumatan to ...
Masih nanti, mampir ke rumah dulu mas sebentar ..
Sampai di rumah pak maniso bercerita mengapa dia tetap meneruskan budidaya organik walau teman-teman di desanya belum mengikuti. Ia mau mencukupi kebutuhan pangan sehat untuk anak-anaknya, dan anak-anaknyapun terlanjur maunya nasi organik. Sanak familinyapun sekarang mau diberi oleh-oleh beras saat mereka tahu pak maniso mengusahakannya dengan cara organik.

Hampir jam 12 saya ingatkan lagi pak maniso soal jumatan.
Ya mari saya antar ke rumah pak lurah sambil mengambil motor ...

Makan dulu pak, yang lain sudah, kata pak lurah
Pak maniso mengiringiku dan pak lurah ikut duduk di meja makan menemani.
Sambil makan saya sampaikan hasil pembicarasn dan rencana dengan pak maniso,
Ya saya titip sama pak lurah untuk mengawasi pak maniso jika dia menggunakan bahan-bahan kimia sintetik di lahannya ...
Ya pak, tapi saya yakin dia tidak akan melakukan lah, kata pak lurah
Saya sih tak yakin, kataku, dan kedua orang itu saling memandang tak percaya dengan apa yang kuucapkan ...
Ya bagaimana mau yakin, sudah saya peringatkan soal jumatan masih belum pergi tu, kataku dilatarbelakangi suara kotbah di masjid.
O begitu to , kata pak lurah dan pak maniso segera menghabiskan makannya kemudian pamit kuiringi senyum saja ...
Lho pak lurah tidak berangkat? Kataku serampangan sambil meneruskan makan, nasi sop bening ditemani sambal tomat dan peyek gereh.
Sialan ni pak lurah, tak menjawab pertanyaanku malah garuk-garuk kepala sambil senyum-senyum ....

Minggu, 26 Juli 2015

Silaturahmi ... Mengisi Energi

Minggu, 26 Juli 2015, bangun pagi karena dering telepon. Tiyok dan Hendro sudah menunggu di teras. Mau ke sawah pakaiannya rapi benar pukirku sambil berjalan ke kamar mandi.
15 menit. Mandi tanpa gosok gigi, ganti baju, berangkat. Terpikir sarapan, ah sudah terus saja, tidak kerja keras ini. Selepas kolam renang arta tirta ragu-ragu, berhenti. Cari petunjuk, rogoh hp mau telpon Setyo. Ternyata sudah ada petunjuk lewat sms.
Basa-basi sambil ngopi sebentar trus ke lahan. Sawah teras siring. Pematang sawahnya rapi dan kecil-kecil membuat Hendro sulit menapakinya, pilih lewat sawah.
Nanti pulangnya lewat jalan bawah saja, he he usul tanda ketidaknyamanan. Untuk lahan ketiga dan kedua yang dikunjungi letaknya di pinggir jalan desa.
Satu jam kunjungan lahan selesai, kembali ke rumah setyo menyusuri tanggul saluran irigasi. Ngobrol soal isu kekeringan sampai sampah di saluran irigasi : pempers dan softex.
Mampir ke kandang sapi kelompok, ganti pembicaraan. Harga sapi untuk besaran, karena seisi kandang sapi jantan.
Jam 11 kembali ke rumah, melihat kolam ikan sambil cuci kaki. Masuk ke rumah meneruskan basa-basi administrasi, sementara Tiyok mengisi formulir registrasi dan inspeksi, saya meneruskan makan ubi rebus.
Ritual selanjutnya makan siang. Rebusan bayam, taoge, kecipir dan kacang panjang ditemani bumbu kacang. Lele goreng dan krupuk.
Ayo makan dulu
Sebentar tunggu Harris
Harris datang, mulai makan, sejam kemudian melanjutkan perjalanan ke Bener.

15 menit sampai di kandang sapi yang pernah diceritakan Haris ke pada tiyok. Mohon ijin melihat sapi dan seorang ibu membukakan gerbang kandang sapi. Begitu melihat ujud 4 sapi yang tersisa di kandang tangan gatal ingin memotret. Tak jadi karena seorang bapak bertubuh kecil masuk ke kandang. Dia seorang diri yang mengurus sapi-sapi ini.
Sebulan lalu 14 ekor mas ... Begitu katanya diteruskan dialog soal bagaimana memelihara sapi sampai bobot mencapai 7 kwintal lebih.
1 jam tidak terasa,
Mampir ke rumah dulu ...
Jam 2 lebih 18 menit pamitan kepada bapaknya Haris.
Perjalanan pulang, ngantuk mulai membayang-bayangi mata. Mereka-reka otak agar tetap terjaga di atas roda dua. Setelah ketemu teman baru berorganik, Setyo dan Pak Semono di kecamatan Loano ada langkah-langkah yang perlu dilakukan lagi. Setelah berinspirasi dengan sapi perlu menetapkan tekad dan niat untuk mempraktekkan.
Berhenti di pom bensin loano. Bersilaturahmi seperti mengisi bensin, menambah energi agar hidup tetap berjalan dan berakselerasi.

Senin, 29 Juni 2015

Organik untuk Siapa?

Tiga hari lalu seorang teman mengunjungi desa Ribggit kecamatan Ngombol, melihat aktifitas petani. Mengunjungi lahan dan melihat aktifitas pengelolaan paska panen.
Bagus, katanya
Ini yang sudah mendapat sertifikasi organik?
Ya, jawabku singkat dan dia memperhatikan kemasan beras itu dan mengambil foto beberapa jepretan.
Ibu, mana lebih penting enak atau organik? Dia bertanya pada mbak Kamti yang mengurus paska panen di ringgit.
Keduanya jawab mbak Kamti bernada ragu.
Temanku ini bercerita ia sering kali makan nasi yang tidak ada rasanya di Indonesia.
Yang penting enak baru organik, katanya, untuk apa organik kalau tidak enak.
Aku hanya senyum-senyum saja mengikuti pembicaraan dua orang ini. Mbak Kamti tentu menjawab dari sudut petani dan temanku berpendapat dari sudut konsumen. Ya mungkin Mbak Kamti lupa kalau padi yang dibudidaya petani sebenarnya hasil dari proses dialog dengan konsumen. Dialog itu yang mendorong suaminya menyilangkan dua jenis padi menjadi varietas baru. Diterima oleh selera konsumen dan bisa dikelola oleh petani dengan hasil yang bagus.

Kenapa padi yang ditanam petani organik dengan lebih susah harus mendapat sertifikasi organik. Beras hasil pertanian modern kok tidak diwajibkan mencantumkan tulisan tentang bagaimana cara budidayanya dan kandungannya, kenapa begitu?

Pertanyaan temanku ini membuat otakku tersenyum kecut, kok tidak pernah terpikirkan pertanyaan semacam itu ya. Tentu bukan mau mempertanyakan atau menyurutkan langkah para petani mengusahakan pertanian organik. Namun jika pertanian organik yang dalam prakteknya sejak di lahan sampai proses paska panen dikerjakan dengan sungguh-sungguh saja harus diinspeksi dan disertifikasi mengapa pertanian modern tidak pernah diawasi. Sedang petani organik harus mengusahakan logo organik dalam kemasan dengan susah payah dan mahal, produk beras pertanian modern tidak pernah diharuskan mencantumkan apa-apa di kemasannya.

Sertifikasi organik berguna untuk konsumen agar produk yang didapat sesuai dengan kebutuhan akan pangan orgsnik, sedang bagi petani agar kerjanya dalam berbudidaya organik mendapat imbalan yang pantas. Nah dalam melindungi konsumen ini kemudian muncul pertanyaan.
Mengapa yang dilindungi hanya konsumen produk organik saja?
Apakah pemerintah tidak mempunyai kewajiban melindungi segenap warga akan haknya memperoleh pangan yang aman?
Ini diskriminasi atau lalai?
Jika pemerintah memang melindungi warganya sudah sepatutnya pemerintah mewajibkan pencantuman informasi cara-cara budidaya dan kandungan yang ada dalam beras yang dikemas dan dijual di toko maupun pasar?
Atau minimal pemerintah memberi contoh dengan memberikan informasi itu di beras yang dikeluarkan Bulog.
(Nanti di bagor beras bulog kita bayangkan ada gambar-gambar peringatan seperti peringatan pemerintah yang ada di kemasan rokok, menarik !!!)

Minggu, 28 Juni 2015

Panas Dingin Air

Sabtu sore, eh keliru, Jumat sore, nongkrong di sebelah selatan pom bensin mBoro, ngopi sambil menulis tentang pesta di petakan sawah. Bayan Samsul membonceng Tikno masuk ke pom. Sekelebat saja menarik pandangan mata pada arit yang dipegang Tikno, seperti sikap siaga menyerang. Mau merampok pom bensin, ah tidak mungkin. Mau tawuran? Rasanya aneh juga.
Tak berapa lama mereka kembali melewati tempat nongkrongku. Saat menenggok akan masuk ke jalan desa mereka melihatku dan berhenti, berjalan mendekatiku. Keduanya memakai sepatu boot, langkahnya berderap seperti tentara walau senjatanya arit.
Arep ngampok po? Kok ngowo arit?
Lep, jatah drop banyu.
Ngowo arit nggo gelut?
Yo ora ... Padake preman po?
Jika kata drop air mulai sering terdengar maka ini menandakan debit air irigasi sudah menyusut. Ada pengiliran arah aliran air.
Dan di sawah mulai sering terdengar suara bernada tinggi. Mulai sering terjadi sabotase dan intimidasi. Sawah mulai menjadi kebun binatang, kata-kata umpatan mulai sering terdengar. Jelas-jelas berkaki dua disebut anjing atau celeng (kok tidak ada yang mengumpat: dasar kucing!). Sawah mulai menjadi medan peperangan : berebut air. Kadang sampai terjadi akhir yang tragis, nyawa melayang.
Seminggu lalu temanku di Bener karena tidak nyaman menjumpai teman-teman petani berebut air lebih baik memutuskan untuk membiarkan tanaman padinya kekeringan dan tak diharapkan lagi panen. Tadi sore ada petugas pengairan di salah satu desa bercerita berebut air di saluran irigasi dengan petugas pengairan partikelir yang menjual jasa pengairan ke salah satu desa di wilayah kecamatan purwodadi.
Petani di kecamatan Ngombol mulai sering menarik slanger mesin pompa air untuk mengairi sawahnya agar tanaman yang sudah berbuah bisa mentes. Sementara teman di kecamatan Purwodadi sudah mengirim komentar via facebook bernada pisuhan kebun binatang tadi.
Air sudah meninggalkan permukaan tanah. Banyak tanah sawah mulai pecah-pecah selebar jari. Tanaman muda enggan tumbuh dan berkembang, tanaman memasuki fase generatif layu.
Musim kemarau, hawa dingin kontras dengan situasi panas berebut sumberdaya terbatas : air irigasi. Panas dingin air cerita yang terus berulang.
(Coba siapa yang berani bicara swasembada pangan saat petani rebutan air, pasti anda akan dilempar lungko men ndang lungo ... He he)

Sabtu, 27 Juni 2015

Membunuh untuk Mengisi Perut (dinamika ekosistem)

Siang menjelang sore. Masih matun. Lambat. Juragan bisa bangkrut kalau punya pekerja macam ini.

Ada pesta di petak sawaku. Undangan :  datang tak dijemput pulang tak dihantar.  Jadi ingat mantra permainan gaib jalangkung.

Kepik helm, kemarin baru terlihat satu, hari ini ada 4 lagi. Saat kucabut rumput tumbakkan ada lagi seekor yang belum terhitung. Satu ini coraknya beda. Yang lain titik-titik hitam bertaburan di warna merah cerah, satu ini warna hitamnya lebih cocok disebut dengan kata loreng. Kita namai saja kepik macan.

Berhenti sejenak mengamati aktivitas kepik-kepik ini. Ilmu perkepikan menyebut ia doyan makan wereng muda (yang belum bersayap) dan telur wereng. Ilmu pengetahuan busa menjadi siraman air penumbuh harapan. Semakin banyak kepik memenuhi undangan pesta datang tak dijemput pulang tak diantar semakin besar harapan keseimbangan ekosistem di petak sawahku. Dan sebagaimana ekosistem maka semua berkecukupan, semua bisa mendapatkan makanannya.

Asyik merangkai kata menarasikan keadaan, harapan dan pengetahuan, muncul Tomkat. Nguncluk, jalan tanpa tengak-tengok, focus pada tujuannya : mencari makan. Kuperhatikan baru satu yang nampak. Sementara penghuni tetap lahanku yakni laba-laba dan precil nampaknya tidak terganggu dengan kehadiran mereka. Wereng punggung putih masih banyak, tak perlu berebut.

Dan memang sebenarnya yang bisa dikategorikan dalam kata berebut ya hanya aku dan wereng. Jelas saja wereng sebagai konsumen pertama dia memakan tumbuhan. Lha manusia menjadikan tumbuhan sebagai sumber pangan dan komoditi ekonomi. Disinilah perebutan itu berakar.

Dalam dinamika ekosistem terjadinya pembunuhan sebagai konsekwensi konsumsi, mengisi perut, makan. Perpindahan energi antar makhluk. Tidak ada yang sia-sia. Ketika manusia mulai ikut campur dan menguasai pembunuhan menjadi kematian sia-sia. Pembunuhan bukan lagi perpindahan energi namun pemusnahan, sia-sia. Hanya bermakna dari sudut pandang kepentingan ekopolitik. Hanya bermakna di dunia manusia.

Dinamika ekosistem adalah kisah di buku kehidupan, sedang dunia manusia lebih sering menyusun kitab goroh.

Jumat, 26 Juni 2015

Wereng Punggung Putih, Kertas Putih dan Awan Putih

Sekolah lapang untuk apa? Kumpul-kumpul dan guyub-guyub medang-macit untuk memenuhi yang sudah tertulis di kertas putih agar bisa jadi tulisan di kertas putih kembali, spj sah ... He he. Begitukah? Begitu kira-kira yang mau dikatakan temanku Hartono Mboz setengah mengritik, setengah mengejek.
Memang sekolah untuk mencari ilmu dan mengembangkan sikap keilmuan. Walau kita sering lebih peduli pada angka nilai yang didapat daripada ilmu maupun sikap keilmuannya.
Hal ini juga terjadi pada pembelajaran petani bernama sekolah lapang. Hanya ngesahke tulisan begitu kata orang.
Sekolah lapang sebenarnya mau membiasakan kita memperhatikan apa yang kita kerjakan dengan apa yang terjadi selanjutnya. Apa yang kita temukan, apa yang kita lakukan dan apa yang terjadi kemudian. Juga membiasakan kita berbagi informasi dan pengetahuan agar kita bisa melakukan perbaikan-perbaikan dalam pekerjaan kita sebagai petani.

Ya, sekolah lapang adalah bekerja dengan seksama.

Kepik Helm menemaniku bekerja sore ini. Sibuk berpatroli di rumpun padi sementara aku terus menyiangi rumput dan gulma subur di sela-sela padi sekarat. Precil juga berlompatan berdansa riang bebarengan wereng punggung putih berloncatan dari rumpun padi yang tergoyang tanganku. Nampak laba-laba yang perutnya membuncit sering kehilangan keseimbangan karena tersambar gerakan tanganku.

Pengeringan lahan dan kehadiran predator di petakan sawahku nampaknya belum mempengaruhi populasi wereng punggung putih. Wereng ini dikenal berkembang mulai saat pembenihan sampai padi umur 30 hari setelah tanam. Saat ini wereng ini mempunyai kecenderungan merusak seperti wereng coklat walau tidak menjadi vektor penyakit lain.  Perkembangannya relatif cepat, telur berjumlah 500 dan menetas dalam 3 hari.

Ini terjadi di sawahku saat ini. Bila diamati dengan patokan ambang batas keberadaan wereng punggung putih satu ekor per rumpun padi maka di sawahku terjadi ledakan hama. Dan harus segera diputuskan tindakan menggunakan senyawa yang mengandung bahan aktif bla bla bla kata ahli pertanian.

Sebaiknya kuambil informasi yang kuperlukan saja, selanjutnya kulanjutkan pekerjaan penyiangan-matun. Walau air di sawahku tinggal yang ada di parit-parit kecil namun tanah ini jenuh air. Akar rerumputanpun berwarna coklat kehitaman begitupun akar weh-wehan. Akar pohon sejenis perdu bernama lombokan saja yang putih. Jadi air harus benar-benar dibuang habis dari lahan.

Sejak kemarin kuamati juga tanaman Gejawan. Tumbuh subur dan tak ada satupun wereng punggung putih yang berminat menyedot cairan tubuhnya. Wereng punggung putih ini memang menjadikan tanaman padiku sebagai target tunggal. Sialan.

Mulih dhisik Mas, sapa Wino sambil lewat dan dung buka puasa. Cuci tangan, bersihkan kaki. Minum air putih sambil menapaki pematang. Duduk di atas motor menunggu tangan dan kaki kering (merokok nikmat tak usah kutulis, bikin ribut). Disuguhi awan putih bergumpal-gumpal di langit beraneka bentuk.

Hemmm, kadang kita senang mematut-matut bentuk awan di langit menurut penangkapan mata dan keinginan tersembunyi kita. Gejala alam di langit kadang medorong sikap keterlaluan sampai dihubung-hubungkan dengan Yang Ilahi. Semacam pertanda mukjizat dan lebih ngeri lagi pertanda kiamat. Dan tak sedikit dari kita ikut asyik menceritakan-kadang sampai berdebat sengit, membuat tafsir dan mencari pembenaran di kitab-kitab besar.

Sementara itu kita sungkan bercerita tentang tanah sawah kita, harapan pada tanaman kita. Menceritakan wereng, kodok precil, laba-laba dan kepik helm yang berbagi kehidupan dengan kita. Menemani kita bekerja.

Kemarin kita telah bicara alam adalah buku besar kehidupan. Dan pekerjaan di sepetak sawah kita adalah imaji buku kehidupan itu.