Minggu, 28 Juni 2015

Panas Dingin Air

Sabtu sore, eh keliru, Jumat sore, nongkrong di sebelah selatan pom bensin mBoro, ngopi sambil menulis tentang pesta di petakan sawah. Bayan Samsul membonceng Tikno masuk ke pom. Sekelebat saja menarik pandangan mata pada arit yang dipegang Tikno, seperti sikap siaga menyerang. Mau merampok pom bensin, ah tidak mungkin. Mau tawuran? Rasanya aneh juga.
Tak berapa lama mereka kembali melewati tempat nongkrongku. Saat menenggok akan masuk ke jalan desa mereka melihatku dan berhenti, berjalan mendekatiku. Keduanya memakai sepatu boot, langkahnya berderap seperti tentara walau senjatanya arit.
Arep ngampok po? Kok ngowo arit?
Lep, jatah drop banyu.
Ngowo arit nggo gelut?
Yo ora ... Padake preman po?
Jika kata drop air mulai sering terdengar maka ini menandakan debit air irigasi sudah menyusut. Ada pengiliran arah aliran air.
Dan di sawah mulai sering terdengar suara bernada tinggi. Mulai sering terjadi sabotase dan intimidasi. Sawah mulai menjadi kebun binatang, kata-kata umpatan mulai sering terdengar. Jelas-jelas berkaki dua disebut anjing atau celeng (kok tidak ada yang mengumpat: dasar kucing!). Sawah mulai menjadi medan peperangan : berebut air. Kadang sampai terjadi akhir yang tragis, nyawa melayang.
Seminggu lalu temanku di Bener karena tidak nyaman menjumpai teman-teman petani berebut air lebih baik memutuskan untuk membiarkan tanaman padinya kekeringan dan tak diharapkan lagi panen. Tadi sore ada petugas pengairan di salah satu desa bercerita berebut air di saluran irigasi dengan petugas pengairan partikelir yang menjual jasa pengairan ke salah satu desa di wilayah kecamatan purwodadi.
Petani di kecamatan Ngombol mulai sering menarik slanger mesin pompa air untuk mengairi sawahnya agar tanaman yang sudah berbuah bisa mentes. Sementara teman di kecamatan Purwodadi sudah mengirim komentar via facebook bernada pisuhan kebun binatang tadi.
Air sudah meninggalkan permukaan tanah. Banyak tanah sawah mulai pecah-pecah selebar jari. Tanaman muda enggan tumbuh dan berkembang, tanaman memasuki fase generatif layu.
Musim kemarau, hawa dingin kontras dengan situasi panas berebut sumberdaya terbatas : air irigasi. Panas dingin air cerita yang terus berulang.
(Coba siapa yang berani bicara swasembada pangan saat petani rebutan air, pasti anda akan dilempar lungko men ndang lungo ... He he)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar