Siang menjelang sore. Masih matun. Lambat. Juragan bisa bangkrut kalau punya pekerja macam ini.
Ada pesta di petak sawaku. Undangan : datang tak dijemput pulang tak dihantar. Jadi ingat mantra permainan gaib jalangkung.
Kepik helm, kemarin baru terlihat satu, hari ini ada 4 lagi. Saat kucabut rumput tumbakkan ada lagi seekor yang belum terhitung. Satu ini coraknya beda. Yang lain titik-titik hitam bertaburan di warna merah cerah, satu ini warna hitamnya lebih cocok disebut dengan kata loreng. Kita namai saja kepik macan.
Berhenti sejenak mengamati aktivitas kepik-kepik ini. Ilmu perkepikan menyebut ia doyan makan wereng muda (yang belum bersayap) dan telur wereng. Ilmu pengetahuan busa menjadi siraman air penumbuh harapan. Semakin banyak kepik memenuhi undangan pesta datang tak dijemput pulang tak diantar semakin besar harapan keseimbangan ekosistem di petak sawahku. Dan sebagaimana ekosistem maka semua berkecukupan, semua bisa mendapatkan makanannya.
Asyik merangkai kata menarasikan keadaan, harapan dan pengetahuan, muncul Tomkat. Nguncluk, jalan tanpa tengak-tengok, focus pada tujuannya : mencari makan. Kuperhatikan baru satu yang nampak. Sementara penghuni tetap lahanku yakni laba-laba dan precil nampaknya tidak terganggu dengan kehadiran mereka. Wereng punggung putih masih banyak, tak perlu berebut.
Dan memang sebenarnya yang bisa dikategorikan dalam kata berebut ya hanya aku dan wereng. Jelas saja wereng sebagai konsumen pertama dia memakan tumbuhan. Lha manusia menjadikan tumbuhan sebagai sumber pangan dan komoditi ekonomi. Disinilah perebutan itu berakar.
Dalam dinamika ekosistem terjadinya pembunuhan sebagai konsekwensi konsumsi, mengisi perut, makan. Perpindahan energi antar makhluk. Tidak ada yang sia-sia. Ketika manusia mulai ikut campur dan menguasai pembunuhan menjadi kematian sia-sia. Pembunuhan bukan lagi perpindahan energi namun pemusnahan, sia-sia. Hanya bermakna dari sudut pandang kepentingan ekopolitik. Hanya bermakna di dunia manusia.
Dinamika ekosistem adalah kisah di buku kehidupan, sedang dunia manusia lebih sering menyusun kitab goroh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar