Jumat, 26 Juni 2015

Wereng Punggung Putih, Kertas Putih dan Awan Putih

Sekolah lapang untuk apa? Kumpul-kumpul dan guyub-guyub medang-macit untuk memenuhi yang sudah tertulis di kertas putih agar bisa jadi tulisan di kertas putih kembali, spj sah ... He he. Begitukah? Begitu kira-kira yang mau dikatakan temanku Hartono Mboz setengah mengritik, setengah mengejek.
Memang sekolah untuk mencari ilmu dan mengembangkan sikap keilmuan. Walau kita sering lebih peduli pada angka nilai yang didapat daripada ilmu maupun sikap keilmuannya.
Hal ini juga terjadi pada pembelajaran petani bernama sekolah lapang. Hanya ngesahke tulisan begitu kata orang.
Sekolah lapang sebenarnya mau membiasakan kita memperhatikan apa yang kita kerjakan dengan apa yang terjadi selanjutnya. Apa yang kita temukan, apa yang kita lakukan dan apa yang terjadi kemudian. Juga membiasakan kita berbagi informasi dan pengetahuan agar kita bisa melakukan perbaikan-perbaikan dalam pekerjaan kita sebagai petani.

Ya, sekolah lapang adalah bekerja dengan seksama.

Kepik Helm menemaniku bekerja sore ini. Sibuk berpatroli di rumpun padi sementara aku terus menyiangi rumput dan gulma subur di sela-sela padi sekarat. Precil juga berlompatan berdansa riang bebarengan wereng punggung putih berloncatan dari rumpun padi yang tergoyang tanganku. Nampak laba-laba yang perutnya membuncit sering kehilangan keseimbangan karena tersambar gerakan tanganku.

Pengeringan lahan dan kehadiran predator di petakan sawahku nampaknya belum mempengaruhi populasi wereng punggung putih. Wereng ini dikenal berkembang mulai saat pembenihan sampai padi umur 30 hari setelah tanam. Saat ini wereng ini mempunyai kecenderungan merusak seperti wereng coklat walau tidak menjadi vektor penyakit lain.  Perkembangannya relatif cepat, telur berjumlah 500 dan menetas dalam 3 hari.

Ini terjadi di sawahku saat ini. Bila diamati dengan patokan ambang batas keberadaan wereng punggung putih satu ekor per rumpun padi maka di sawahku terjadi ledakan hama. Dan harus segera diputuskan tindakan menggunakan senyawa yang mengandung bahan aktif bla bla bla kata ahli pertanian.

Sebaiknya kuambil informasi yang kuperlukan saja, selanjutnya kulanjutkan pekerjaan penyiangan-matun. Walau air di sawahku tinggal yang ada di parit-parit kecil namun tanah ini jenuh air. Akar rerumputanpun berwarna coklat kehitaman begitupun akar weh-wehan. Akar pohon sejenis perdu bernama lombokan saja yang putih. Jadi air harus benar-benar dibuang habis dari lahan.

Sejak kemarin kuamati juga tanaman Gejawan. Tumbuh subur dan tak ada satupun wereng punggung putih yang berminat menyedot cairan tubuhnya. Wereng punggung putih ini memang menjadikan tanaman padiku sebagai target tunggal. Sialan.

Mulih dhisik Mas, sapa Wino sambil lewat dan dung buka puasa. Cuci tangan, bersihkan kaki. Minum air putih sambil menapaki pematang. Duduk di atas motor menunggu tangan dan kaki kering (merokok nikmat tak usah kutulis, bikin ribut). Disuguhi awan putih bergumpal-gumpal di langit beraneka bentuk.

Hemmm, kadang kita senang mematut-matut bentuk awan di langit menurut penangkapan mata dan keinginan tersembunyi kita. Gejala alam di langit kadang medorong sikap keterlaluan sampai dihubung-hubungkan dengan Yang Ilahi. Semacam pertanda mukjizat dan lebih ngeri lagi pertanda kiamat. Dan tak sedikit dari kita ikut asyik menceritakan-kadang sampai berdebat sengit, membuat tafsir dan mencari pembenaran di kitab-kitab besar.

Sementara itu kita sungkan bercerita tentang tanah sawah kita, harapan pada tanaman kita. Menceritakan wereng, kodok precil, laba-laba dan kepik helm yang berbagi kehidupan dengan kita. Menemani kita bekerja.

Kemarin kita telah bicara alam adalah buku besar kehidupan. Dan pekerjaan di sepetak sawah kita adalah imaji buku kehidupan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar