Jam 16:14 sesruput kopi menuntaskan diskusi hari kedua. Tersisa materi action plan kutinggalkan biar menjadi kerja yang mau mengimplentasikan. Mau memenuhi janji mengamati tanaman di sawah.
Jam 16: 30 sampai ketangi disambut salam lapar dua pedet jantan peliharaan. Ganti baju celana, ngarah arit 10 menit. Ku suap dua pedet itu dengan seember air kucampur tetes tebu trus pergi ke kebun potong rumput.
Baru satu genggaman pak Edi muncul.
Wah belum jadi ke sawah mas, baru tanam tembakau. ( syukurlah ucapku dalam hati. Laba-laba di sawah belum jadi kena kapur panas).
Sudah jadi ke sawah?
Belum, setelah memberi makan sapi. (Kapan? Sudah hampir jam 5 rumput belum didapat).
Dung buka puasa pak edi belum beranjak pergi : tidak buka puasa? ; sudah tadi siang, libur sehari.; hmm semprul.
Pak Edi pulang, kuangkat sebagor rumput. Cukup tidak cukup hanya ini yang kudapat. Dua pedet sapi berebut menyorongkan moncongnya saat kudekati wadah pakan mereka. Kutumpahkan habis. Lipat bagor, letakkan sabit dan batu asahan, ganti celana dan kaos. Duduk trus ngopi sampai jam 18:25.
Sampai di sawah sudah gelap. Nyalakan senter terangi mata kaki menapaki pematang. Jongkok mengamati rumpun padi. Beberapa kodok mengamati perilakuku. Wereng bergelantungan di jaring laba-laba. Laba-laba pemburu berlarian. Beberapa jenis kepik berjalan kesan-kemari seperti pramusaji sibuk melayani pelanggan. Semut-semut kecil juga sibuk berjalan. Pindah ke petakan lain.
Laba-laba menyambut pandangan mataku. Malam ini semakin banyak daripada tadi malam. Alam terus bekerja, tak peduli pagi, siang dan malam.
Hasil belajar malam ini, pengeringan lahan sawah membuat alam bekerja menyeimbangkan ekosistem yang beberapa hari lalu dikuasai wereng. Tanaman padi nampak sedang membebaskan diri dari cengkeraman jenuh air di perakarannya.
Harapan manusia tumbuh saat mengamati alam bekerja. Dalam senyap.
Menjawab keraguanku dan mulai kujawab pertanyaanmu kawan ...
Besok kucari lagi ..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar