Sabtu, 20 Juni 2015

Tani, Tanduran dan Nenandur

Tandur
Tlaten
Temen
Titen
Adalah sedikit dari ribuan kata yang sering digunakan untuk mengidentifikasi tani utun. Dalam hidup petani utun kata-kata itu menggambarkan eksistensi dan identitas mereka dalam peradaban. Petani utun adalah pengembang peradaban, bukan sekedar kuli bagi kelangsungan peradaban manusia di bumi.

Kata-kata itu adalah penanda kerja petani utun melibatkan dua titik pendulum kerja manusia di bumi: okol dan akal. Mata manusia modern sering rabun melihat kerja petani. Manusia modern melihat kerja petani hanyalah kerja penuh derai keringat bercampur debu dan lumpur menjadi peluh. Manusia modern melihat kerja petani sebagai keluh kesah yang hanya pantas dihindari.

Manusia modern juga yang menempatkan petani sebagai sumberdaya yang harus digunakan sebagai pendukung peradaban yang sedang mereka bangun. Wajah modernitas dengan congkak membuat minder petani utun merasa diri sebagai manusia rendahan. SDM rendah, hidup dengan otot dan okol saja, begitu kata yang sering tergambar.

Dan saat ini petani utun itu mulai tersingkir. Muncullah generasi petani modern yang canggih dengan segala pengetahuan dan perlengkapan penuh energi tingkat tinggi.

Petani-petani dengan segudang ilmu ini tentu berkasta SDM tinggi. Semua pekerjaan bertaninya sistematis, berstruktur, teratur dan rapi. Semua hambatan dan masalah sudah disiapkan solusinya. Jadi bertani adalah pekerjaan pabrikasi produk.

Sebagaimana lazimnya industri maka senjata pamungkasnya adalah efisiensi. Apapun yang menghambat efisiensi layak disingkirkan. Mekanisasi adalah keniscayaannya. Kerbau dan sapi tidak efisien maka diganti traktor. Ibu-ibu tani tukang tanam tidak efisien maka diganti mesin tanam. Tenaga manusia tidak efisien maka diganti dengan mesin. Mengatasi gulma dengan tenaga manusia tidak efisien maka diganti dengan cara kimiawi dan mekanisasi.

Bergantung pada hukum alam rantai makanan dalam ekosistem hanya ada di bangku sekolah, di lapangan mengintervensi alam dengan material kimia sintetik mulai dari pupuk, pestisida, hetbisida, fungisida, bakterisida dan semacamnya. Semua dibuat demi efisiensi.

Tiba saat panen muncullah mesin pemanen, panen dengan cara lama menyebabkan kehilangan hasil katanya. Pengeringan dengan sinar matahari juga tidak efisien maka dibuatlah mesin pengering.

Lalu apakah semua itu sudah menyelesaikan masalah yang dihadapi peradaban modern? Hasil meningkat dan kecukupan cadangan pangan serta peningkatan kualitas pangan?

Bukankah cara-cara modern itu justru meningkatkan ancaman keselamatan peradaban manusia modern?

Ledakan hama misalnya tidak pernah teratasi dengan material hasil ilmu pengetahuan modern. Berbagai benih unggul terus diintroduksi mengintimidasi petani yang menggunakan benih lokal, walau akhirnya juga tidak pernah terbukti unggul menghadapi serangga yang hidup di ekosistem sawah.

Kebimbangan itu mulai tampak nyata saat ini. Saat target-target produksi sudah ditetapkan oleh mereka yang hidup di negeri di awan nampak sulit tercapai maka turunlah para kesatria menuju bumi petani.

Menggerak dan mendesak petani memenuhi target para petinggi negri di atas awan. Semua sumberdaya digelontorkan untuk menambah kekuatan sumberdaya pokok yakni petani. Jadi petani adalah sumberdaya? Ya dalam pertanian modern begitu. Sama dengan pupuk, sama dengan traktor, sama dengan benih? Ya ...

Petani, kita ... Dianggap begitu?
Memang mau dianggap seperti apa?
Jadi kita ini hanya dihargai okolnya saja?
Memang masih punya akal?

Jika kita punya akal maka kita hanya akan belajar pada tanah dan tanaman. Orang-orang modern dengan ilmu setinggi langit tidak pernah bisa menyamai kemampuan alamiah tanaman yang sering kita jumpai di alam.

Kita ini juga tidak pernah merasa selalu disindir oleh alam. Pengetahuan di kepala membuat mata rabun, bagaimana mungkin tanaman yang kita rawat dengan berbagai cara tidak pernah bisa menyamai tanaman yang hidup sendiri-alamiah.

Bukankah pengetahuan itu bukan lagi bentuk rumusan akal namun rumusan nafsu alias okol? Memang modernitas bekerja dengan akal, namun akal itu sudah menjadi okol karena kehilangan jiwanya yakni hati.

Maka sudah saatnya kita tinggalkan cara-cara pertanian modern yang penuh okol itu. Kembali ke kerja petani utun membangun peradaban :
Tandur
Tlaten
Temen
Titen

(Selamat hari Senin yang terlalu serius )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar