Rabu, 17 Juni 2015

Tanaman, pasien dokter spesialis?

Beberapa hari matun belum selesai, orang lalu lalang melintas sawah yang kukerjakan sampai bosen melihat. Untung saja mereka tidak mengusirku dari pandangan mereka. Sekedar candaan atau ejekan terlontar juga tidak mempercepat kerjaku. Tadi malam pijat urut (pijat sungguhan nggak pakai plus-plus) membuat bangun lebih pagi tapi juga tidak membuat pergi ke sawah lebih pagi. Hanya memperpanjang waktu menikmati kopi. Cari sarapan pagi tapi warung tutup, eh lupa puasa hari pertama. Pagi-pagi sudah goblok.

Tenggak-tenggok, sepi ganti celana baju di tepi jalan di bawah pohon ketapang. Baru saja turun ke sawah mbah Pawiro sudah pulang, 'ngaso mas' sapanya sambil mengayuh sepeda pelan. Belum sepuluh menit istrinya pak Gito lewat, 'matun ra rampung-rampung' kutenggok dan kukemparkan seringgai, sial bukannya takut malah tertawa. Asem.

Ah sudah kuteruskan bekerja, menyiangi gulma dan membalik tanah. Entah darimana tiba-tiba ada pikiran aneh melingkar-lingkar di kepala. Tanaman padi ini kok sering dianggap pasien di rumah sakit. Harus diinfus dan disuapi. Disuntik dan disuruh minum obat.

Eh benar lho tanaman padi ini seperti pasien sakit parah. Tidak bisa bergerak pindah tempat. Makan, minum, mandi, kencing dan bab di tempat. Ngebrok. Jadi ya benar kalau ia mesti diinfus, disuapi, disuntik dan diminumi obat.

Jadi petani sudah tepat berlaku seperti dokter dan perawat bagi tanaman padi. Dan jauh lebih sulit bidang keahlian ini karena pasiennya tidak bisa diajak bicara.

Banyak petani di negeri kita mestinya punya gelar spesialis karena bisa melakukan diagnosis yang jos gandos. Mampu meramu berbagai macam asupan (jadi semacam ahli gizi) sehingga tanaman gemuk. Mampu menjadi formulator bahan-bahan kimia sintetis (semacam alkhemist mungkin) yang membuat tanaman terhidar dari menu makan serangga. Jadi untuk urusan perawatan dan penyelamatan tanaman mereka benar-benar spesialis (semacam SAR dan BNPB, kadang juga lebih hebat dari densus 88 dalam soal pemberantasan serangga yang digolongkan teroris).

Pikiran aneh-aneh ini tiba-tiba berhenti saat sampai di tepi sawah. Serumpun tanaman padi yang tumbuh sendiri di pematang seperti sedang mengejek pikiranku.

Sialan, tadi pagi diejek teman-teman petani. Siang hari diejek serumpun tanaman padi. Untung saja bulan puasa jadi sungkan mau marah. Eh marah sama tanaman? He he baru terasa kalau masih waras.

Kuperhatikan dan kubandingkan dengan tanaman di sawah, si pasien istimewa yang ditanggani dokter spesialis dan perawat profesional. Tanaman terlantar ini batangnya lebih kokoh, rumpunya besar lebih dari 50 anakan produktif, tidak ada tanda-tanda serangga yang memangsa tanaman ini.

Jadi berpikir, jangan-jangan saat kita (petani) menjadi dokter spesialis dan perawat profesional bagi tanaman, satu-satunya yang kita lakukan adalah mal praktek. Ternyata tanaman bukan pasien yang tergeletak di ranjang rumah sakit. Ia memang makhluk hidup yang tidak berpindah karena sudah dilengkapi alat dan kemampuan untuk mencukupi hidup dan perkembangannya.

Waduh sehari kok sudah goblok dua kali. Jadi kegiatan matun ini harus kuteruskan tidak? Tanyaku pada si tanaman padi terlantar itu. Tentu saja dia diam saja, kalau dia bisa bicara maka akan dapat satu lagi goblok.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar