Jumat, 19 Juni 2015

Border yang membuat Keder

Selasa Pahing, Hari Waisak 2 Juni 2015 bertemu teman-teman bagian pengembangan pengetahuan dan pwmbelajaran Perkumpulan Tani Organik Purworejo, merefleksikan kegiatan usaha bersama yang sudah dilakukan petani.

Berbekal blangko bussiness canvas model yang telah kufotocopy sebesar lapangan karambol (sempat terkaget-kaget dengan layanan fotocopy 'apa mau loe' jaman sekarang) kuminta teman-teman berdiskusi. Menuliskan hasil diskusi di sticky note dan menempelkan di kolom-kolom yang tersedia.

Selasa legi, 16 Juni 2015 pergi ke kota nogosuwi (nama batu akik) Purbalingga. Memilih rute via Sempor supaya lebih cepat ternyata lebih deg-degan karena jalan berkelok menanjak tepi jurang. Selamat tiba di alun-alun Purbalingga dan Pak Wur yang nyetir bilang: nanti pulang lewat Sokaraja saja. Kami ikut saja lantaran hanya dia yang bisa nyetir.

Bingung dengan rute menuju ke tempat pertemuan, angkat telepon dan tunggu pemandu arah. Pak Wanto muncul tak seberapa lama dan segera meluncur ke gedung Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian.

Bertemu dengan petani anggota Pamor Bangga (paguyuban masyarakat organik purbalingga), berkenalan trus diskusi. Materi diskusi sama dengan pertemuan tanggal 2. Dan jawabannya ternyata sama (jadi siapa yang telah membocorkan kunci jawaban diskusi ini ... He he).

Terasa manis, lebih pulen, tidak cepat basi, warna lebih cerah begitu para petani mengidentifikasi beras yang dibudidaya secara organik. Manfaatnya? Sehat.

Sehat? Mengapa? Karena dibudidaya dengan bahan-bahan alami dan benih lokal.

Menggunakan pupuk kimia sintetik? Tidak sama sekali, kami menggunakan kompos.
Pupuk organik? Kami menggunakan kompos buatan sendiri?
Menggunakan pestisida, fungisida dan bakterisida? Kami menggandalkan keseimbangan agroekosistem dengan penggunaan kompos dan pengaturan air.
Menggunakan herbisida? Kami menggunakan cara mekanis untuk pengendalian gulma, gosrok dan matun.

Jadi itu yang membuat konsumen mau membeli beras petani? Ya, karena konsumen percaya pada kami.

Percaya? Ya, karena kami jujur.
Jujur?

Kok tanya terus? Mas tidak percaya?

Percaya, jujur dan kata-kata saleh semacam itu kan berlaku kalau terlihat wujud tindakkannya. Jadi bagaimana kepercayaan, kejujuran dan semacamnya itu ditunjukkan. Dan siapa yang menjamin.

Diam (saya teringat sesepuh petani organik yang melontarkan kata-kata keras saat kupertanyakan integritas keorganikkan produknya : belajar darimana kamu !!! Begitu dia membentakku ... He he ... Padahal aku belajar padanya.)

Jadi bagaimana kita menjamin mutu produk kita, sedang kita dan lahan kita ada di tempat yang berbeda-beda?

Kita perlu menyusun kesepakatan mengenai batasan-batasan keorganikan menurut kita. Kemudian kita jabarkan langkah-langkah budidaya dan paska panen untuk menjaga agar produk kita tetap organik.

Benih, kita gunakan benih lokal dan sudah dikembangkan di lahan organik milik petani.
Kompos, kita buat sendiri dari bahan dari bahan-bahan organik di lingkungan pertanian kita.
Lahan, kita khususkan lahan organik hanya untuk budidaya secara organik. Nah, sebentar sebelum membahas langkah selanjutnya.
Lalu apa yang membedakan lahan organik dengan lahan yang bukan? Jika lahan di sekeliling kita untuk budidaya bukan organik lalu bagaimana kita berupaya agar tidak terjadi pencemaran?

Diam lagi.

Harus ada penyaringan air.
Harus ada tanaman pembatas.

Harus? Siapa yang mengharuskan?

Ya karena kita berkehendak jujur. Karena kita menerima kepercayaan konsumen sebagai tanggung jawab.

Jadi kolam penyaringan air dan tanaman pembatas sudah dibuat?
(Nampak ragu plus ekspresi jengkel ... Crewet betul ini orang ... Mungkin begitu kata dalam hatinya) ... Sebagian ...

Baik, sebagian ... Kapan selesai ...?

Selasa berikutnya kalau kolam penyaringan air dan tanaman pembatas sudah diselesaikan, masih ada yang harus kita lakukan berhubungan dengan kejujuran dan kepercayaan itu.

Jadi selasa adalah hari cerewet ....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar