Senin, 22 Juni 2015

Tentang Kemasan : bungkus atau isi ...

SMS kedua dari Surisman As : sudah jadi belanja plastik? (Terkirim dua hari lalu dan dua sms senada tidak kujawab, males membuat alasan).

Senin sudah siang, mampir ke Popongan mengambil gambar rumah kompos trus berangkat ke jogja. Toko plastik dekat pku tujuan utama, pilih-pilih plastik. Bingung, angkat telepon. Duskusi online, ambil keputusan beli walau lebih mahal dari harga di klaten, mungkin juga karena gonjang-ganjing nilai tukar rupiah yang jeblok. Beli di jogja dengan uang rupiah nilainya ditentukan dollar, amerika sialan.

Tak ada gunanya berdebat soal itu, beli dua jenis : untuk kemasan 2,5 dan 1 kg. Ide terlambat: cek harga ke toko yang lain. Menuju ring road selatan. Tak tahu jalan, ambil jalur ke selatan entah lewat mana akhirnya sampai. Bertanya dan dijawab tidak ada, yang ada untuk kemasan 5 kg, 35 ribu sekilo. Yang ada bukan yang dicari maka tidak beli.

Urusan plastik selesai. Menyusul urusan cetak stiker. Kembali ke utara menuju gejayan. Masuk printshop tanya, dijawab, berhitung, berkesimpulan : mahal. Urung cetak stiker di jogja, pulang ke purworejo. Menantang matahari sore, silau.

Cetak stiker di purworejo. Perkecil ukuran dan pilih bahan yang murah saja. Lumayan per biji jadi lebih ekonomis. Kualitas? Nanti kita diskusikan lagi ...

Makan malam di warung bakmi depan smp muhi, ada undangan ngopi ke cangkrep via bbm, malam ini selesaikan urusan stiker dulu. 

Cutter, penggaris besi, meja kaca tersedia diterangi lampu hemat energi setara 80 watt. Ada yang kurang, segelas kopi. Ke dapur, sial kopi tinggal sepucuk sendok dan gula tinggal butir-butir putih menempel di blong plastik. Beli ke warung dulu ... (Kapokmu kapan).

Pulang dari warung ceret sudah jadi poltas, membunyikan peluit. Matikan kompor, sesendok besar kopi sudah teronggok di dasar gelas tuang aIr panas dan aduk. Tambah sedikit gula tuang air lagi dan aduk kembali. Begitu ritual adonan kopiku, pasti enak, tak percaya? Terserah ...

Sepuluh lembar stiker A3 melawan mata menua didukung teknik manual jegleg. 2 jam baru selesai, lelet ... Terserah yang penting selesai sambil berharap besok tidak ada sms ketiga ...

Sekarang kita kembali ke pokok pembicaraan soal kemasan. Kemasan bagus dan menarik akan mempermudah pemasaran melakukan penetrasi pasar ke berbagai segmen. Tampilan bagus menambah kepercayaan diri petani menjual produknya bersaing dengan produk industri besar maupun barang import.

Apakah kemasan bagus mahal? Jika dihitung satuannya murah namun perlu investasi besar karena harus dibuat dalam partai besar. Rasanya di sinilah kita merasa belum perlu. Saat ini kita pilih jalan menonjolkan fungsi kemasan agar produk sampai ke konsumen dalam keadaan aman. Sambil berharap bisa lebih menarik karena sederhana sambil menjaga keseksamaan dalam mengelola isinya.

Jadi jalani saja, tetap dengarkan kebutuhan dan keinginan konsumen dan kembangkan kreatifitas mendistribusikan produk dalam kondisi dan posisi kita. Sambil tetap sederhana dan seksama menjalankan perubahan, setapak demi setapak karena jalan kita bukanlah jalan tol tetapi jalan setapak pematang sawah kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar