Jam 22.23 berhenti di sumberejo, perjalanan dari ringgit mau mampir popongan. Dingin mencengkeram kulit tangan dan kaki.
Jam 12.16: 38 ada sms dari Edi Ketangi : tanduran pari keno penyakit opo? Uripe ra apik kiro-kiro panen po ra?
Kujawab saja sekenanya karena baru pusing berdiskusi. Berencana sore ke sawah lihat keadaan. Ternyata diskusi sampai sore, tidak selesai lagi, besok diteruskan lagi ( ngalamat pekerjaan sawah terbengkelai ).
Sore, potong rumput mengejar waktu. Hanya jarum jam yang berjalan cepat, isi bagor berjalan lambat, jam 5 rumput baru penuh. Sapi di kandang sudah teriak-teriak seperti tukang demo.
Jam 19:18 dari ringgit, kutanggapi lagi sms tadi siang : coba taburkan kapur untuk mengusir wereng dan mengurangi keasaman tanah. Setelah beberapa saat mengirim sms muncul pertanyaan sendiri. Menabur kapur bagaimana dengan laba-laba.
Dua hari lalu gelisah tambah sedikit rasa penasaran melihat tanaman padi yang kutanam. Pertumbuhan dan peranakan lambat, di beberapa bagian nampak batang tanaman bercak-bercak coklat. Saat kugoyang-goyangkan byur wereng muda berjatuhan ke lumpur seperti debu, sementara wereng dewasa jalan ke samping berlindung dari pandangan mata di seberang batang padi.
Beberapa rumpun padi kecabut dan akarnya nampak tidak tumbuh sehat. Membandingkan, kucabut beberapa jenis rumput dan terlihat akarnyapun berwarna coklat gelap. Ya bagaimana mau tumbuh baik, akar tidak optimal menyerap makanan batang diganggu wereng. Kondisi sempurna bagi tanaman padi untuk mati.
Mengeringkan lahan bisa membuat keasaman berkurang dan membangun iklim mikro yang tidak mendukung bagi perkembangan wereng. Benerapa jenis laba-labapun akan terbantu menjelajah lahan tanpa gangguan genangan air. Walaupun anjing tanah juga bisa ikut berpesta si pangkal batang padi tanpa peduli nafsu makannya bisa merusak pangkal batang tanaman.
Jadi pilihan yang mau dilaksanakan yang mana? Mengeringkan lahan atau menabur kapur?
Memastikan pilihan itu kurogoh saku kiri, ambil hp dan pilih menu senter, byar lumayan menerangi jalan di pematang sawah.
Jongkok kuamati beberapa rumpun padi. Eh berjumpa lagi dengan wereng. Nampak juga laba-laba muda sedang belajar membuat jaring. Ada juga yang berlarian saat tanganku menggoyang tanaman, masih terlalu muda berwarna hijau muda.
Menaburkan kapur rasanya menjadi tak benar, abu dapur? Sama saja. Laba-laba muda bisa mati. Jaring-jaring perangkap yang dibangun laba-laba itu juga akan hancur. Segenggam kapur maupun abu rasanya sudah terlalu banyak merusak kehidupan laba-laba.
Nanti siang akan kulihat lagi kondisi sawah dan tanamanku, memastikan tindakan. Pagi ini permisi mau diskusi.
Mandi
Gosok gigi
Bersihkan gusi
Ganti baju, hitam lagi
(Tanda belum ketemu jalan damai dengan wereng dan anjing tanah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar