Waduh sedih weruh tandurane, komentar seorang teman, Tito namanya. (Biasanya hanya soal kambing dan cewek yang bisa membuat dia sedih).
Sedih lagi nek weruh wong e, kubalas komentarnya sementara teman lain mengirim komentar tanda tertawa.
Satu sore ini serasa ditertawakan kondisi sepetak sawahku. Menyiangi gulma subur hidup di sela-sela tanaman padi yang hampir mati. Setiap gerak tanganku mencabut gulma-gulma itu dihiasi tebaran segerombolan wereng. Precil -katak muda- melompat-lompat gembira mengejar wereng, seperti ayam ditaburi gabah.
Kuamat-amati Tomcat belum muncul begitupun kumbang tanah. Laba-laba ada yang mulai aktif walau laba-laba pembuat jaring tidak terlalu suka dengan kehadiranku. Ia harus membuat jaring lagi.
Sampai besok aku pilih jalan ini dulu, membersihkan lahan dari gulma sehingga sinar matahari bisa mencapai pangkal rumpun padi. Berharap wereng tidak nyaman terpapar sinar matahari. Air di lahanpun sudah kubuang, walau pekerjaan matun menjadi lebih bertenaga.
Temanku sudah mulai menabur abu dan kompos di petakan sawahnya. Waktu melihat itu ada dorongan ikut menabur abu. Kutertawakan saja dorongan itu. Biar saja ini jadi 'laku' membuktikan teori ekosistem.
Lembur po mas, kang tarman berhenti melihatku masih duduk di pematang sambil cuci tangan.
Nunggu bar magrib kang, men samber coloke entek sik.
Tandurane keno wereng yo mas.
Iyo, lha kuwi rupane ... Ra urip ra mati
Njuk dipiyeke yen ra nggo obat?
Kuwi pak Par disawuri awu ro kompos
O ... Nggonku yo keno, sesuk tak sawurane kompos. Lha nggon kono dipiyeke?
Tak sat ro tak watun maneh ...
Yo wis kono nek mulih Mas, wis peteng. Tak golek lawuh nggo sahur anak lanang.
Kang Tarman pergi, segera ganti kaos dan celana trus pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar